Gerbang Indah Nusantara

Switch to desktop Register Login

Berita (153)

Industri pengolahan susu sapi yang saat ini dikembangkan oleh Kota Cimahi dipusatkan di sentra susu sapi yang terletak di RW 19 Kelurahan Cipageran, sekitar 2 km dari pusat Kota Cimahi. Lokasi sentra susu sapi ini memiliki kondisi alam yang sejuk dan geografis yang menanjak dengan pemandangan lampu-lampu Kota Cimahi yang indah apabila dilihat pada malam hari. Aroma daun-daun basah dan khas peternakan sapi segera tercium ketika memasuki Jalan Karya Bakti yang merupakan jalan masuk ke Kelurahan Cipageran. Selain itu, kondisi masyarakat di Sentra Susu Sapi Cipageran terkenal ramah dan senang membantu. Mereka senang apabila ada orang yang mengunjungi tempat mereka.
 
Dalam rangka pengembangan Technopark Cimahi, Tim Pusat Pengkajian Kebijakan Peningkatan Daya Saing (PPKPDS), BPPT pada tanggal 29 April 2015 yang diwakili oleh Mien Askinatin, Retno, Yakobus Supri, Ruki Savianto, Binuko Dani, Anggara Hayun Anujuprana, Aphang Suhendra, Dini Anggraeni, Ati Widiati, Endah, Agus Pramudya, Hamid, Rosie, dan Heru Mulyono serta didampingi oleh Eko dari Diskopindagtan Kota Cimahi melakukan survei ke Sentra Susu Sapi Cipageran. Survei awal dengan mengunjungi gerai yang menyediakan produk - produk olahan susu seperti yoghurt, kerupuk susu, karamel, sabun susu, stik susu dll. Produk olahan susu ini merupakan produk yang dibuat oleh ibu-ibu peternak dengan bantuan pembelajaran dari berbagai lembaga pendamping seperti Unpad dan STIE Ekuitas.  

Pengembangan Sentra Susu Sapi Cipageran merupakan tindak lanjut untuk memberikan contoh sukses lain dalam memberikan pemberdayaan ke masyarakat seperti cerita sukses dalam pengembangan Sentra Keripik Pedas di Jl. Kademangan, Kelurahan Setiamanah, Kota Cimahi. Untuk meniru keberhasilan tersebut maka pada bulan Januari 2014, Bappeda Kota Cimahi mulai menginisiasi identifikasi potensi dan penyusunan action plan. Semangat yang ingin dimunculkan adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di bidang peternakan. 

Menindaklanjuti inisiasi identifikasi potensi Sentra Susu Sapi Cipageran, pada bulan Agustus 2014 Bappeda Kota Cimahi melakukan survei identifikasi potensi sosial ekonomi (sosek) calon sentra dan telah berhasil mencocokkan data makro dengan data mikro di lapangan serta menetapkan lokasi pusat budidaya sapi perah di RW 19 Kelurahan Cipageran. Dengan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, pengembangan Sentra Susu Sapi Cipageran akan dilakukan berdasarkan pendekatan pengembangan komunitas dan wilayah.

Kerjasama untuk pengembangan Sentra Susu Sapi Cipageran melibatkan sekitar 54 peternak sapi perah, fasilitator Sarjana Masuk Desa (SMD), praktisi dunia pendidikan (Fakultas Peternakan Unpad, Fakultas Manajemen Teknologi Pertanian Unpad, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi EKUITAS Bandung), Bappeda Kota Cimahi, dan Diskopindagtan Kota Cimahi. Kerjasama yang dilakukan berupa penyuluhan dan pembinaan terhadap para warga dan peternak sapi. Penyuluhan dimulai dari strategi perencanaan pengembangan susu, pengembangan kualitas manajemen peternak susu, hingga pelatihan keterampilan pengolahan susu. Selain itu untuk mengembangkan sentra ini, rantai nilai mulai dari hulu (budi daya sapi perah) hingga hilir (produk turunan susu sapi) dihubungkan agar nilai tambah yang diperoleh menjadi lebih besar.

Upaya pengembangan Sentra Susu Sapi Cipageran mulai membuahkan hasil dengan terus tumbuhnya komunitas-komunitas peternak dan kelompok pengolah susu sapi. Pada saat ini terdapat 10 kelompok hasil olahan susu di Cipageran. Kelompok dan hasil olahannya yaitu sebagai berikut:
1. Kelompok Umi Berkah (KPSP Berkah Darunni’mah) dengan hasil olahan susu berupa yoghurt 300 ml kemasan botol kaca, yoghurt 120 ml kemasan cup, yoghurt 200 ml kemasan botol plastik, yoghurt lilin, dan Kacida (Karamel Cipageran Beda)
2. Kelompok Cipageran Ayu dengan hasil olahan susu berupa sabun susu zaitun extra sereh, sabun susu zaitun extra madu, dan sabun susu zaitun extra melati.
3. Kelompok Cipa dengan hasil olahan susu berupa kerupuk susu original, kerupuk susu pedas, es krim, dan susu cistik (sutik).
4. Kelompok Chrisant dengan hasil olahan susu berupa kerupuk susu bayam dan kerupuk susu cintrong.
5. Kelompok Ayam dengan hasil olahan susu berupa kerupuk susu bayam dan kerupuk susu mentah.
6. Kelompok Mawar bodas dengan hasil olahan susu berupa sutik.
7. Kelompok Sapi Mandiri dengan hasil olahan susu berupa yoghurt cup 100ml, 125 ml, 150 ml, 200 ml; yoghurt botol plastik 300 ml; dan yoghurt lilin.
8. Kelompok Tekad Mandiri dengan hasil olahan susu berupa ranginang susu, kerupuk susu original, kerupuk susu pedas, dan dodol susu.
9. Kelompok Seroja Susu dengan hasil olahan susu berupa seroja susu.
10. Kelompok Melati (Ridho) dengan hasil olahan susu berupa kumakbok dan sukong.

Pada akhir tahun 2014, Diskopindagtan Kota Cimahi mulai memfasilitasi komunitas yang ada di Cipageran untuk mampu menjual produk-produk olahan susu sapi. Diharapkan melalui pendampingan dan pemberdayaan kelompok-kelompok peternak dan pengolah susu oleh Pemerintah dan penguatan branding produk “CIPAGERAN” serta kolaborasi dan pendampingan dari dunia pendidikan melalui Technopark Cimahi akan semakin memperkuat jaringan inovasi dan penyebaran pengetahuan untuk mengolah produk-produk kreatif olahan susu sapi Kota Cimahi. Produk-produk ini dapat dibeli di gerai UMKM produk olahan susu sapi atau kelompok-kelompok pengolah susu secara langsung. (Retno/Mien/Hayun/Mutia)

Survey Pokja 5 BPPT Technopark Pelalawan

Published in Berita

Pelalawan –  Pada hari Senin tanggal 20 April 2015 telah dilaksanakan acara penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS) kegiatan Technopark antara BPPT dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan. Pusat Audit Teknologi (PAT) yang berada dalam Pokja 5/Pilar Tematik akan melaksanakan kegiatan terkait Energi, Air Bersih, dan Survey Geoteknik. PKS telah ditandatangani dengan pihak Dinas Pertambangan dan Energi dan Dinas Pekerjaan Umum. Setelah itu acara dilanjutkan dengan rapat pokja 5 dengan agenda melaksanakan diskusi membahas rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2015. Rapat tersebut dihadiri oleh Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda, Awaludin, selaku ketua tim pokja 5, Kadis Pertambangan dan Energi, Yumardi, Kadis Pekerjaan Umum, Hasan Tua Tanjung, dan Kadis Perhubungan dan Informatika Kabupaten Pelalawan, Tengku Ridwan. Sedangkan dari BPPT dihadiri oleh Tim PAT yang diwakili Arwanto, Sri Handoyo Mukti, Donny Triana, Asep Rachmat, Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) diwakili oleh Tati, I. Nugroho, Haryoto, Wahyu, Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) diwakili oleh Andika Prastawa, Oo Abdul Rosyid, dan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) diwakili oleh Saras dan Arif.

Selanjutnya pada Selasa tanggal 21 April 2015, tim PAT dan PTL dengan didampingi oleh pihak Bappeda dan Dinas PU melaksanakan survei lapangan tahap awal ke beberapa lokasi. Lokasi pertama adalah mengunjungi rencana zona riset dan pendidikan di kawasan technopark untuk menentukan lokasi titik-titik pengeboran geoteknik yang akan dilaksanakan di zona tersebut. Lokasi berikutnya tim survei juga meninjau lokasi Danau Tajwid, yaitu salah satu wilayah yang dianggap memiliki potensi sumber air sebagai reservoir dalam mendukung ketahanan air untuk kebutuhan kawasan technopark. Dari hasil pengukuran dan analisa sementara disimpulkan bahwa kondisi air di danau tersebut cukup baik dan secara jarak juga tidak terlalu jauh yaitu hanya sekitar 4 km dari Technopark Pelalawan. (PAT/Mutia)

Gerbang Indah Nusantara – Pada Hari Rabu Tanggal 29 April 2015, tim PPKPDS – BPPT didampingi Diskopindagtan Kota Cimahi melakukan survei awal untuk mengetahui kondisi sentra industri keripik singkong di Setiamanah. Dalam survei awal tersebut tim PPKPDS – BPPT diwakili oleh Yakobus Supri, Anggara Hayun Anujuprana, Ruki Savianto, Ati Widiati, Endah, Mien Askinatin, Aphang Suhendra, Agus Pramudya, Dini Anggraeni, Hamid, Heru Mulyono, Binuko Dani, Retno, dan Rosie. Sedangkan dari Diskopindagtan diwakili oleh Eko.
 
Survei awal menunjukkan bahwa industri keripik singkong telah cukup lama berkembang di Kelurahan Setiamanah Kota Cimahi. Saat ini terdapat kurang lebih 40 pelaku usaha yang berada di dua RW di Kelurahan Setiamanah. Hasil pengamatan lapangan dan wawancara dengan Pak Yugo, ketua paguyuban pelaku usaha keripik singkong Setiamanah, didapat gambaran awalnya sebagai berikut :

 

Produk

Produk keripik singkong yang dihasilkan kebanyakan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar golongan menengah bawah. Untuk menekan biaya produksi, kemasan yang digunakan juga sederhana. Konsekuensinya harga yang ditetapkan cenderung murah dan sulit menyesuaikan dengan perubahan harga-harga bahan baku dan bahan pembantu. Belum nampak adanya diversifikasi produk untuk menjangkau berbagai kelas atau segmen pasar yang berbeda. Diversifikasi produk dengan kemasan yang lebih baik bisa juga dilakukan untuk menjangkau segmen pasar menengah atas. Namun karena memerlukan modal yang lebih banyak, maka tidak dilakukan diversifikasi produk.
 
Bahan Baku
Pada dasarnya bahan baku utama keripik singkong adalah singkong. Berbagai jenis singkong dapat digunakan sebagai bahan baku keripik singkong. Bahan baku singkong ini berasal dari daerah di sekitar Kota Cimahi, terutama wilayah di sekitar Jatinangor, Sumedang. Sementara untuk rasa pedas materinya didatangkan dari Tangerang. Bahan bakar yang digunakan untuk proses produksi keripik singkong adalah kayu bakar, yang diperoleh dari berbagai daerah, terutama dari kawasan Cikalong. Di beberapa outlet penjualan produk makanan dan minuman di kawasan Setiamanah, terdapat juga beberapa jenis makanan lain yang terbuat dari bahan baku bukan singkong, seperti ubi, kedelai, dan lainnya.

Proses Produksi
Proses produksi keripik singkong relatif sederhana. Bahan baku singkong dikupas, dipotong tipis-tipis, lalu digoreng dengan minyak goreng pada suhu tertentu. Setelah matang, ditiriskan, diberi bumbu pedas, dan dikemas dalam plastik. Faktor penting untuk menghasilkan produk yang baik adalah pada proses penggorengan. Namun belum pernah dilakukan pengukuran suhu dengan menggunakan peralatan pengukuran suhu. Mesin pemotong singkong bisa dibuat di bengkel yang mudah didapat di kawasan Setiamanah. Pengadaan dan perawatan peralatan produksi relatif tidak banyak menemui kesulitan. 

Organisasi
Saat ini terdapat 42 pelaku usaha keripik singkong di Setiamanah yang bergabung dalam paguyuban. Kebanyakan skala industrinya masih dalam skala rumah tangga. Fungsi-fungsi produksi, pemasaran, keuangan dan operasional perusahaan lainnya masih ditangani oleh pemilik usaha sendiri. Sementara untuk bagian produksi  mempekerjakan tenaga dari luar keluarga.

Pasar
Dalam hal pasar, kebanyakan masih membidik segmen pasar kelas menengah bawah. Selain melalui outlet-outlet yang dimiliki para pelaku usaha di kawasan Setiamanah, penjualan keripik singkong dilakukan juga melalui pedagang-pedagang di berbagai kota di luar Kota Cimahi.
 
Beberapa permasalahan yang dihadapi para pelaku usaha keripik singkong Setiamanah antara lain adalah :

Persaingan Usaha
Usaha produksi keripik singkong telah berkembang di berbagai daerah, sehingga tingkat persaingan semakin ketat. Menyasar segmen pasar kelas menengah ke bawah berarti persaingan lebih pada tingkat harga.  Kenaikan harga bahan baku, bahan pembantu, biaya transportasi dan biaya operasional lainnya, tidak selalu bisa diikuti dengan  menaikkan harga jual, karena akan terbentur pada persaingan harga.

Inovasi
Pelaku usaha menyadari untuk bersaing dan mempertahankan usahanya diperlukan pengembangan produk-produk baru. Yang terjadi, ide menciptakan produk baru  terbentur pada peralatan produksi yang belum tersedia. Artinya peralatan produksi perlu diciptakan. Untuk menciptakan alat produksi baru dibutuhkan sentuhan teknologi, dan inilah yang diharapkan pelaku usaha terhadap BPPT, yaitu membantu menciptakan peralatan baru.

Aspek Keuangan
Inovasi memerlukan dukungan aspek keuangan. Ide menciptakan produk baru, memerlukan peralatan yang baru. Ini berarti butuh dukungan permodalan untuk pengadaan peralatan baru. Produk baru membutuhkan waktu dan upaya-upaya pemasaran tertentu untuk bisa diterima oleh pasar. Ini berati juga membutuhkan dukungan permodalan. 

Persaingan Global
Keberadaan technopark di Kota Cimahi diharapkan bisa menjadikan produk-produk makanan dan minuman Kota Cimahi mampu bersaing secara global. Maka sasarannya adalah produk-produk makanan dan minuman kota Cimahi mampu menembus pasar ekspor. Kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berarti di pasar domestik pun produk-produk dalam negeri harus mampu bersaing dengan produk-produk negara ASEAN. (Y. Supriyanto/Mutia) 

Gerbang Indah Nusantara – Menurut RPJMN 2015-2019, technopark merupakan pusat penerapan teknologi di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan hasil (pasca panen) yang telah dikaji oleh lembaga penelitian, swasta, perguruan tinggi untuk diterapkan dalam skala ekonomi. Technopark juga merupakan tempat pelatihan, pemagangan, pusat diseminasi teknologi, dan pusat advokasi bisnis ke masyarakat luas. Sedangkan menurut Taufik (2015), technopark adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih sentra kegiatan IPTEKIN, kegiatan produktif dan gerakan masyarakat pada wilayah tertentu (satu atau lebih daerah otonom) sebagai sistem pembangunan yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan sistem inovasi.

Technopark Cimahi direncanakan dibangun di daerah Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Saat ini di kawasan Technopark Cimahi terdapat kantor kecamatan Cimahi Selatan, lapangan Krida Bakti, dan kantor pemadam kebakaran. Kantor Kecamatan Cimahi Selatan direncanakan akan dilakukan perubahan peruntukkannya, digunakan sebagai kantor kecamatan di lantai 2 dan sebagai embrio technopark di lantai 3. Technopark Cimahi direncanakan memiliki beberapa fungsi, yaitu sumber informasi IPTEKIN, wahana partisipasi (ruang publik kreatif dan relawan inovasi), inkubasi, kelembagaan efektif, intermediasi, infrastruktur berkualitas, dan prototipe e-government.

Dalam rangka pengembangan Technopark di Kota Cimahi, pada hari Rabu dan Kamis (29-30  April 2015) dilakukan diskusi antara Bappeda dan tim PPKPDS BPPT serta survei ke industri Setiamanah dan Cipageran. Bappeda diwakili oleh Heni Tishaeni, Elivas Simatupang, Nur Amaliah, Dadang Ramdhan, dan Supijan Malik. Sedangkan tim PPKPDS BPPT diwakili oleh Anggara Hayun Anujuprana, Agus Pramudya, Ruki Savianto, Yakobus Suprianto, Ati Widiati, Endah, Aphang Suhendra, Mien Askinatin, Retno, Heru Mulyono, Dini Anggraeni, Rosie, Binuko Dani, dan Hamid. Diskusi dilakukan untuk mendapatkan gambaran pelaku usaha makanan dan minuman di industri Setiamanah dan Cipageran, sedangkan survei untuk mengetahui kondisi saat ini.

Pada hari Rabu tanggal 29 April 2015, tim PPKPDS BPPT dibagi menjadi dua. Tim pertama melakukan diskusi awal dengan Bappeda bidang ekonomi dan tim kedua melakukan survei ke industri Setiamanah dan Cipageran. Diskusi awal dimulai dengan penyampaian hasil kajian dari Bappeda bidang Ekonomi oleh Elivas Simatupang. Kajian yang disampaikan berjudul Innovation and Export Activity and Manufacturing SMEs-A Case Study of Cimahi City, West Java-Indonesia. Hasil kajian menunjukkan Kecamatan Cimahi Selatan memiliki tingkat inovasi yang paling rendah, sedangkan Kecamatan Cimahi Tengah memiliki tingkat inovasi yang paling tinggi. Berdasarkan hasil kajian ini, penempatan technopark di Kecamatan Cimahi Selatan sudah tepat. Adanya teknopark diharapkan dapat menjadi tempat pelatihan, pemagangan, diseminasi teknologi, dan inkubasi sehingga dapat mempercepat peningkatan inovasi.

Berdasarkan Direktori Bisnis Kota Cimahi Tahun 2014, industri pengolahan di Kota Cimahi memiliki kontribusi ekonomi sebesar 57,9%.  Industri pengolahan tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dengan persentase sebesar 97,85% (terdiri dari 2.725 perusahaan) dan industri besar dengan persentase sebesar 2,15% (terdiri dari 60 perusahaan). Walaupun persentase jumlah industri besar jauh lebih sedikit, namun persentase penyerapan tenaga kerja di industri besar 61,9% (21.681 orang) masih diatas UMKM sebesar 38,1% (13.346 orang). Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah UMKM di Kota Cimahi yang termasuk dalam industri pengolahan memang banyak tetapi penyerapan tenaga kerjanya sedikit. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan UMKM agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap Kota Cimahi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan klaster.  

Menurut Munir (2007), pengembangan klaster dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu Tahap Sentra, Klaster Pemula, Klaster Dinamis, dan Klaster Maju. Pada Tahap Sentra, pemasaran dilakukan via perantara. Industri mengandalkan sumber daya alam dan sumber daya manusia tradisional. Ketergantungan pada pemerintah daerah tinggi. Pada Klaster Pemula, mulai terjadi kerjasama antar kegiatan. Variasi kegiatan mulai terjadi, usaha besar berperan sebagai lokomotif pengembangan klaster. Pada Klaster Dinamis terjadi sinergi intern klaster, dimana mulai terlihat dominasi perusahaan yang besar. Positioning pasar mulai terlihat. Untuk mempertahankan positioning pasar, diperlukan standar manajemen mutu. Sedangkan pada Klaster Maju sudah terlihat sinergitas antar industri dan antar daerah.

Berdasarkan hasil pengamatan tim BPPT, sentra di Industri Setiamanah dan Cipageran sudah mulai bergerak dari sentra menuju ke klaster pemula. Industri pengolahan susu di Cipageran sudah memiliki variasi kegiatan seperti mengolah susu menjadi youghurt, sabun susu, kerupuk susu, karamel susu, dan tahu susu.Berbagai variasi produk hasil pengolahan susu diperoleh dari hasil pembinaan oleh Universitas Padjadjaran (Unpad). Unpad memberikan penyuluhan mulai dari perencanaan pengembangan susu, pengembangan kualitas manajemen peternak susu, dan pelatihan ketrampilan pengolahan susu. Sedangkan industri kripik di Setiamanah selain memproduksi kripik singkong pedas, aneka makanan lain yang diproduksi adalah solondok, basreng, keripik kentang, batagor, gurilem, dan makroni aneka rasa. Kerjasama antar kegiatan sudah mulai terlihat dengan adanya Paguyupan Pengusaha Keripik Pedas Pojok Cimahi.

Hasil diskusi dengan Bappeda juga membahas lembaga yang memiliki pengalaman dalam mendampingi industri di Kota Cimahi. Menurut Elivas, ada beberapa lembaga pendamping di sentra-sentra industri Kota Cimahi. Sentra boneka didampingi oleh STIE Ekuitas Bandung, sentra keripik didampingi oleh Unjani, STIE Ekuitas Bandung, dan Fisip Unpar, sentra pengolahan susu sapi didampingi oleh Peternakan Unpad, FTIP Unpad, dan STIE Ekuitas, serta sentra batako didampingi oleh Polman Bandung dan STIE Ekuitas Bandung. Pengembangan Technopark Cimahi difokuskan pada industri makanan dan minuman di Cipageran dan Setiamanah. Hal ini berarti lembaga pendamping yang dapat diajak kerjasama dalam pengembangan Technopark Cimahi adalah Peternakan Unpad, FTIP Unpad, STIE Ekuitas Bandung, Unjani, dan Fisip Unpar (HA/Mutia)

Gerbang Indah Nusantara – Bertempat di Kantor Bappeda Sumatera Selatan, Tim Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi (PPKDT), Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi (PKT), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengadakan diskusi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api pada tanggal 22 April 2015. Tim PPKDT terdiri dari Saparudin, Kasman, Erna Setianingrum dan Siti Romlah. Adapun mitra Bappeda Sumatera Selatan adalah Kepala Bidang Perekonomian, Aksoni dan Staf Bappeda Hari Wibawa.

Kepala Bidang Manajemen Difusi Teknologi, Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi, Saparudin, menyampaikan bahwa maksud kunjungan dinas ini adalah dalam rangka mengisi kerjasama yang telah dilakukan BPPT dengan Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan khususnya Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa). Dijelaskan pula bahwa Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi diberi tugas mengembangkan pilar jaringan inovasi, salah satu bentuknya adalah pengembangan kawasan spesifik (dalam hal ini Techno Park). 

Terkait hal tersebut, Kepala Bidang Perekonomian Bappeda Sumatera Selatan, Aksoni, menyampaikan bahwa saat ini Sumatera Selatan akan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api. Dijelaskan pula bahwa dokumen rencana pengembangan tersebut telah disusun seperti Studi Kelayakan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Master Plan. Dari rencana pengembangawan kawasan seluas 2230 ha, baru 217 ha yang telah dibebaskan oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan. Nantinya KEK Tanjung Api-Api tersebut akan diarahkan menjadi Techno Park, oleh karena itu perlu pendampingan dari BPPT atau instansi terkait yang dapat membantu pengembangan kawasan tersebut.

Tim PPKDT menjelaskan, jika ingin mengembangkan KEK Tanjung Api-Api menjadi Techno Park maka perlu dilakukan reviu terhadap Master Plan yang sudah ada disesuaikan dengan konsep Techno Park. Nantinya ada tim berikutnya dari Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi yang akan berkunjung ke Bappeda Sumatera Selatan untuk berdiskusi lebih lanjut. (srn-ppkdt)

Kunjungan Tim Kebutuhan Dasar PAT ke Cimahi

Published in Berita

Gerbang Indah Nusantara - Cimahi. Tim Kebutuhan Dasar Pusat Audit Teknologi (PAT) - BPPT melakukan kunjungan ke Cimahi pada hari Rabu hingga Jumat (22-24 April 2015). Pada kunjungan ini tim melakukan pertemuan dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan di Gedung Pemerintahan Kota Cimahi. Inti dari pertemuan ini adalah guna mendiskusikan spesifikasi alat penjernih air yang akan dipasang di Kantor Kecamatan Cimahi Selatan serta melakukan penyamaan persepsi terkait perjanjian kerjasama yang akan segera ditandatangani.

Selepas melakukan pertemuan dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan, tim beranjak guna mengadakan pertemuan dengan Kantor Arsip Perpustakaan dan Pengelolaan Data Elektronik. Pertemuan ini guna membahas spesifikasi perangkat wifi yang akan dipasang di Kantor Kecamatan Cimahi Selatan.

Selain melakukan pertemuan dengan SKPD terkait, tim juga melakukan peninjauan secara langsung ke Kantor Kecamatan Cimahi Selatan yang akan digunakan sebagai embrio awal kawasan Technopark Kota Cimahi. (Adi/Mutia)   

(Gerbang Indah Nusantara-Palembang). Tim PPKDT melakukan diskusi mengenai mekanisme pengelolaan invensi/HKI dengan Sentra HKI Universitas Sriwijaya (UNSRI) pada tanggal 23 April 2015. Diskusi tersebut dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris Sentra HKI UNSRI, dan Kepala Unit Penjamin Mutu (UPM UNSRI). Diskusi ini dilakukan sebagai langkah awal melakukan kegiatan kajian model dan pengukuran manajemen invensi dalam rangka peningkatan kapasitas litbangyasa dan perguruan tinggi.

Dari kiri ke kanan, Zainal Fanini, Hasanuddin dan Siti Herlinda

Sebagai pembuka diskusi, Ketua Sentra HKI UNSRI, Zainal Fanini menjelaskan bahwa Sentra HKI berdiri sejak tahun 2005 dan kelembagaannya tidak berdiri sendiri tetapi berada di bawah Badan  Litbang (dikoordinasikan oleh Pembantu Rektor I). Kemudian pada tahun 2011 berubah di bawah Renbang (dikoordinasikan oleh Pembantu Rektor IV), dan pada tahun 2015 ini akan dikembalikan lagi ke litbang. Layanan yang diberikan Sentra HKI UNSRI adalah memfasilitasi/mendampingi para inventor agar temuan teknologinya dapat dipatenkan, mulai dari proposal penelitian sampai ke proses pendaftaran paten. “Sejauh ini kami memiliki 23 granted patent dan ada 2 yang sudah dibeli oleh industri, yaitu teknologi pembuatan tape ubi hasil temuan Prof. Rindit yang dibeli oleh Pemda Bangka, dan satu lagi dibeli oleh Malaysia, pengolahan gambir untuk minuman. Di sana dijual sebagai teh hijau. Ada juga teknologi yang sudah dipatenkan tetapi tidak dibeli karena teknologinya sederhana, hanya kami difusikan ke UMKM, misalnya teknologi pengolah pempek menjadi empuk”, ujarnya.

Sebagian besar inventor di UNSRI adalah dosen, tetapi bagi dosen, paten dirasakan kurang menggairahkan, hal ini disebabkan insentif yang diterima kecil, bahkan mahasiswa yang melakukan riset tidak diberikan insentif, di samping itu belum ada regulasi mengenai insentif/pembagian royalti bagi para inventor. Mekanisme pembagian royalti di UNSRI 80% untuk inventor dan 20% untuk UNSRI. Kemudian bagian yang 20% ini dibagi dua, masing-masing  50% untuk universitas dan fakultas.

Siti Herlinda, Kepala UPM UNSRI menambahkan bahwa yang menjadi problematika di UNSRI saat ini adalah belum ada pusat unggulan untuk mengkomersialisasikan produk-produk teknologi. Bahkan di Fakultas Ekonomi belum ada mahasiswa yang mempunyai keahlian dalam bidang pemasaran. Oleh karena itu, dibutuhkan SDM yang kompeten dalam memasarkan produk-produk teknologi agar dapat masuk ke industri sehingga teknologi yang sudah dihasilkan mempunyai nilai tambah. (ES-ppkdt)

Suasana diskusi Manajemen Invensi di Sentra HKI Universitas Sriwijaya, Palembang

(Gerbang Indah Nusantara - Bantaeng). Tim Techno Park Pusat Audit Teknologi (PAT) melakukan pembahasan kerjasama perihal pemenuhan kebutuhan dasar di Kawasan Techno Park  Bantaeng dengan pihak-pihak terkait pada Hari Selasa hingga Jumat (14-17 April 2015). Pembahasan kerjasama ini dilakukan sebagai langkah awal dalam melakukan kegiatan kajian kebutuhan dasar serta intermediasi dan difusi teknologi.

Tim Techno Park  Pusat Audit Teknologi (PAT) melakukan pertemuan pertama dengan pihak Politeknik Negeri Ujung Pandang. Dalam pertemuan ini, Tim disambut oleh jajaran birokrasi Politeknik Negeri Ujung Pandang yang dipimpin oleh Wakil Direktur IV, Tri Hartono. Tri menjelaskan bahwa Politeknik Negeri Ujung Pandang sebelumnya sudah pernah menandatangani MoU dengan BPPT, sehingga kerjasama Techno Park  ini bukanlah yang pertama. Tri juga berharap kerjasama ini dapat menjadi wadah bagi Politeknik Negeri Ujung Pandang untuk memberikan kontribusi dalam pengembangan Techno Park. Selain membahas kegiatan, kajian, serta intermediasi dan difusi teknologi, pertemuan yang dilakukan di Ruang Multimedia Politeknik Negeri Ujung Pandang ini juga membahas agenda kegiatan Focus Group Discussion yang nanti akan dilaksanakan beberapa waktu ke depan.

Selain melakukan pertemuan dengan Politeknik Negeri Ujung Pandang, Tim juga mengadakan pertemuan dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Hasanuddin (LP2M UNHAS). Dalam pertemuan ini Ketua LP2M UNHAS, Sudirman, juga berharap kerjasama Techno Park  ini dapat berjalan dengan baik.

Sebelum beranjak ke Jakarta, Tim juga melakukan pertemuan singkat dengan Bappeda Kabupaten Bantaeng dan Balai Besar Industri Hasil Perkebunan, Kementerian Perindustrian. (adi, mutia)  

 

(Pelalawan - Kamis, 26 Maret 2015) Sebagai salah satu daerah yang mendapat pendampingan oleh BPPT, Pemda Kabupaten Pelalawan turut mengundang partisipasi BPPT pada acara peresmian gedung PLUT yang secara seremonial mendapatkan kunjungan kerja oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Acara peresmian gedung PLUT-KUMKM tersebut juga dirangkai dengan launching kartu izin usaha mikro dan kecil (IUMK), penyerahan hak cipta dan penyerahan akte koperasi oleh Menkop UKM.

Dalam acara ini Kepala BPPT diwakili oleh Sekertaris Utama BPPT Soni Solistia Wirawan dan Deputi TAB BPPT Listyani Wijayanti beserta rombongan BPPT, Turut hadir Gubernur Riau Arsyajuliandi Rachman, Bupati Pelalawan HM Harris, anggota DPD dan DPR RI, direktur BRI beserta rombongan, unsur Forkompinda, Wakil Ketua II DPRD Pelalawan Indra Kampe beserta rombongan, Kepala SKPD se Kabupaten Pelalawan, Camat se Kabupaten Pelalawan dan para undangan lainnya.

Dalam rangka pengembangan technopark Kota Cimahi Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi (PPKIT) sebagai unit kerja koordinator yang bertanggungjawab terhadap pengembangan technopark di Kota Cimahi mengadakan rapat koordinasi dengan pemrintah kota Cimahi yang diselenggarakan pada  hari Rabu tanggal 18 Maret 2015 yang bertempat di Ruang Komisi Utama Gedung II BPPT.

Agenda utama dalam acara tersebut adalah merumuskan isi dan lingkup kegiatan pada PKS (Perjanjian Kerjasama) yang akan disepakati oleh kedua belah pihak untuk mendukung pengembangan technopark Kota Cimahi. Dalam acara tersebut dihadiri beberapa tim inti dari Kota Cimahi yang terlibat secara langsung dalam pengembangan technopark Kota Cimahi, diantaranya adalah Bappeda, Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum, KPDE, KPPT, Kantor Penanaman Modal, Bagian Hukum dan tim sekretaris daerah. Tim Cimahi dipimpin oleh Asisten 3 Pemkot Cimahi dan Kepala Bappeda Kota Cimahi.  Tim BPPT yang hadir diantaranya adalah para direktur di Linkungan PKT BPPT, troika program pengembangan technopark kota cimahi, tim ekosistem inovasi, tim kawasan spesifik, tim klaster industri, tim teknoprener, tim pemenuhan kebutuhan dasar, perencanaan dan inspektorat.

Acara diawali dengan paparan dari Kepala Program Technopark Cimahi yang menjelaskan tentang konsep techno park Cimahi dan perkembangan perencanaan pembangunan sampai saat ini termasuk hasil dari rapat-rapat koordinasi sebelumnya. Dalam paparan tersebut juga disebutkan bahwa fokus komoditas yang akan dikembangkan pada technopark Cimahi pada tahun ini adalah pangan olahan dan animasi yang mendukung pengembangan pangan olahan. Sementara untuk lokasi dari embrio technopark Kota Cimahi adalah di kantor kecamatan Cimahi Selatan dan pengembanganya di Lapangan Krida, seluas kurang lebih 1 Ha.

 

Setelah paparan acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang melibatkan seluruh pihak.  Setelah diskusi dilakukan pertemuan parallel antara tim BPPT berdasarkan pilar dan pusat dengan mitra SKPD dari Pemkot Cimahi.  Di akhir sessi Rakor kemabli ke panel diskusi dimana masing-masing tim memaparkan hasil diskusi kelompok masing-masing. Dari diskusi tersebut dapat dirangkum beberapa hasil diantaranya adalah akan dibuat PKS yang mendukung rencana kerja dari pengembangan technopark Kota Cimahi, diantaranya adalah :

  1. Kerjasama antara Pusat Pengkajian Kebijakan Peningkatan Daya Saing (PPKDS)  dengan KPPT Kota Cimahi yang mencakup tentang perijinan. Selanjutnya adalah kerjasama dengan Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian. tentang teknologi masyarakat serta kelembagaan dan fasilitasi HKI. 
  2. Kerjasama antara Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi (PPKIT) dengan Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian, yang berisi tentang penguatan rantai nilai pada industri pangan olahan, peningkatan kemampuan IPTEKIN pada industri pangan olahan dan animasi serta pengembangan model bisnis pada industri pangan olahan dan animasi.
  3. Kerjasama antara Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi (PPKDT) dengan Bappeda yang berisi tentang penyusunan masterplan pengembangan kawasan technopark, perencanaan kelembagaan dan penyusunan business plan kawasan technopark. Selanjutnya adalah kerjasama dengan Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian dalam hal identifikasi sumber-sumber teknologi dan pengukuran dampak difusi teknologi.
  4. Kerjasama antara Balai Inkubator Teknologi (BIT) dengan Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian tentang pengembangan Pusat Inovasi Bisnis Kota Cimahi.
  5.  Kerjasama antara Pusat Audit Teknologi (PAT) dengan KPDE tentang dokumen perencanaan TIK. Selanjutnya kerjasama dengan Dinas Kebersihana dan Pertamanan tentang penyediaan sarana air minum dan UKL/UPL.

Acara diakhiri dengan sambutan dari Direktur PPKIT dan Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, mereka berharap agar program pengembangan technopark Kota Cimahi dapat menjadi success story dan bisa dijadikan acuan bagi daerah-daerah lain yang akan mengembangkan technopark. Selain itu juga diharapkan keseriusan dari kedua belah pihak untuk sama-sama melakukan monitoring dan evaluasi sehingga IKU quick win yang diharapkan dapat tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan. Selanjutnya PKS akan dikonsultasikan dengan Biro perencanaan dan Biro Hukum BPPT sebelum disahkan. Dan implementasi kegiatan akan segera dilaksanakan setelah PKS disepakati dan dibuat rencana detail kegiatan.(kris&dud).

 


391882
Hari iniHari ini121
KemarinKemarin128
Minggu iniMinggu ini215
Bulan iniBulan ini2555
Seluruh hariSeluruh hari391882
Statistik created: 2017-11-21T06:13:33+00:00