Gerbang Indah Nusantara

Switch to desktop Register Login

Berita (153)

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan program pendampingan klaster industri pangan organik Kabupaten Ngawi Jawa Timur oleh Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi (PPKIT) BPPT,  tim klaster industri pangan organik Kabupaten Ngawi - PPKIT  yang diketuai oleh Wenny Oktaviani, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Perencanaan Inovasi Teknologi PPKIT BPPT mengundang  Pemerintah Kabupaten Ngawi yang dipimpin oleh Kusumawati Nilam selaku Kepala Bidang Litbang Bappeda Kabupaten Ngawi untuk melakukan kunjungan pada tanggal 4-7 Agustus 2015. Kunjungan ini dimaksudkan untuk memperluas jejaring Pemkab Ngawi di bidang teknologi dan pemasaran pangan teknologi. 

Tim perwakilan Pemerintah Kabupaten Ngawi yang hadir berkunjung berjumlah 10 orang terdiri atas perwakilan Bappeda serta beberapa perwakilan komunitas petani organik Kabupaten Ngawi.  Pendampingan klaster industri pangan organik Kabupaten Ngawi Jawa Timur oleh Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi (PPKIT) BPPT dengan pemerintah Kabupaten Ngawi, dilakukan dengan berbagai rangkaian kegiatan pendampingan khususnya yang terkait dengan pengembangkan akses teknologi pertanian dan pangan organik Kabupaten Ngawi ke beberapa lembaga litbang (BBPT dan LIPI) serta pelatihan SRI Organik di Sukabumi. Kegiatan ini dimediasi oleh tim klaster industri pangan organik PPKIT untuk Kabupaten Ngawi . 

Kegiatan diawali dengan melakukan kunjungan bersama Tim Pemerintah Kabupaten Ngawi dan Tim PPKIT BPPT ke Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna  (TTG) LIPI  Subang Jawa Barat pada tanggal 4 Agustus 2015. Tim disambut oleh Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna LIPI, Yoyon Ahmudiart. Pada kunjungan tersebut, Yoyon Ahmudiarto menyampaikan  tupoksi Pusat Pengembangan TTG LIPI  adalah penelitian dan pengembangan teknologi proses dan rekayasa enjiniring, pelatihan TTG kepada UMKM, kajian potensi TTG dan Kelayakan Usaha serta pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu dipaparkan pula kegiatan  pendampingan pangan organik yang telah dilakukan Pusat Pengembangan TTG LIPI dimana Pusat Pengembangan TTG LIPI pernah bekerjasama dengan PT JAVARA untuk mengeksport pangan organic tomat kemasan dalam botol. Hasil kunjungan tersebut menghasilkan kesepakatan rencana kerjasama pengembangan akses teknologi pertanian organik (alih teknologi) serta pemasaran pangan organik  antara Pusat Pengembangan TTG LIPI dengan Pemerintah Kabupaten Ngawi.  

Pada tanggal 5 Agustus 2015, Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi (PPKIT) mengundang Tim Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk berdiskusi tentang pengembangan teknopark kota Cimahi yang didampingi oleh BPPT. Diskusi dipimpin oleh Dudy Iskandar selaku Kepala Bidang Kapasitas Inovasi PPKIT dan Peltu Direktur PPKIT dan Kepala Program Teknopark Cimahi. Dalam diskusi dipaparkan berbagai kegiatan dan proses tahapan pendampingan yang dilakukan oleh PPKIT BPPT dalam rangka pengembangan Teknopark Kota Cimahi.  

Kegiatan dilanjutkan  dengan kunjungan Tim Pemerintah Kabupaten Ngawi yang didampingi tim klaster industri pangan organik PPKIT untuk Kabupaten Ngawi ke Balai Inkubator Teknologi (BIT) BPPT dimana kunjungan diisi dengan diskusi tentang rencana kerjasama pengembangan wirausaha /UKM Kabupaten Ngawi di bidang pangan organik. Dalam kesempatan tersebut wirausaha /UKM pertanian organik Kabupaten Ngawi yang turut hadir, berdiskusi langsung dengan BIT untuk memaparkan prospek bisnis dan berbagai kendala bisnis yang selama ini dihadapi. Dari hasil diskusi dilakukan kesepakatan untuk menjajaki kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Ngawi dengan BIT BPPT dalam hal pendampingan wirausaha /UKM pertanian organik Kabupaten Ngawi. Selanjutnya, Tim melakukan kunjungan ke Balai Besar Bioteknologi  BPPT. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka pengembangan wawasan pelaku usaha tani organik Kabupaten Ngawi khususnya dalam hal pengembangan Mikroorganisme Lokal (MOL), serta pupuk dan pestisida hayati yang telah dikembangkan oleh Balai Besar Bioteknologi, BPPT. Dari hasil kunjungan dilakukan kesepakatan kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Ngawi dengan Balai Besar Bioteknologi terkait pelatihan teknis pertanian organik untuk petani organik di  Kabupaten Ngawi,  dimana rencananya Pemerintah Kabupaten Kabupaten Ngawi akan mengundang perwakilan Balai Besar Bioteknologi sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut.  

Pada tanggal 5-6 Agustus 2015 tim Pemerintah Kabupaten Ngawi dan  tim klaster industri pangan organik PPKIT untuk Kabupaten Ngawi melanjutkan kegiatan dengan mengikuti pelatihan pertanian SRI organik yang dilakukan oleh lembaga Nusantara Organic Sri Center (NSOC) yang berlokasi di Sukabumi Jawa Barat. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan petani akan pengembangan pertanian organik melalui metode penanaman Sistem Rice Intensification (SRI). Pelatihan diisi dengan berbagai kegiatan diskusi terkait pertanian organik serta praktek pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL), pupuk kompos hayati dan penanaman padi organik dengan metode SRI.

Rangkaian acara diakhiri dengan kegiatan kunjungan tim ke kawasan puspiptek Serpong pada hari Jumat tanggal 7 Agusutus, yang diterima oleh Kepala Puspiptek Ibu Sri Setiawati. Kunjungan ke Puspiptek akan ditindaklanjuti dengan inisiasi kerjasama antara Kemenristekdikti dengan Pemkab Ngawi. Kerjasama tersebut diharapkan dapat menjadi payung bagi Ngawi untuk mengakses  teknologi yang ada di lembaga-lembaga litbang yang berada di bawah Kemenristekdikti. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Puspiptek memberi masukan kepada Pemkab Ngawi  mengenai tatacara pembangunan dan pengembangan kawasan teknopark Kabupaten Ngawi. 

Dari kegiatan ini, diharapkan tercipta jejaring akses teknologi dan pasar, serta peningkatan iptekin dari pelaku pertanian pangan organik. Juga diharapkan meningkatkan pengetahuan mengenai pembangunan dan pengembangan Science dan Technopark untuk Kabupaten Ngawi. (Arh)

PUSAT UNGGULAN BENIH di Indonesia Bagian Timur, Techno Park Kabupaten Bantaeng telah diluncurkan kegiatannya bersamaan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BPPT dengan Pemkab. Bantaeng pada 5 Maret 2015. Menindaklanjutinya, tim BPPT melaksanakan agenda rangkaian kunjungan.

Pendalaman hal strategi pengembangan kawasan dan desain pusat serta model lembaga pengelola Techno Park Kab. Bantaeng dibahas di lingkungan Pemkab. Bantaeng. Selanjutnya tim Techno Park Kab. Bantaeng PPKDT berkunjung ke unit-unit teknis yang langsung berkaitan dengan budidaya komoditi yang disepakati bersama dalam PKS, yang pada tahun pertama fokus pada rumput laut, talas, ikan nila dan jagung, serta ke instansi terkait dengan pengembangan Techno Park di lingkungan Perguruan Tinggi, Bisnis dan Pemerintah lingkup Daerah dan Pusat.

Dari hasil rangkaian kunjungan dapat diangkat benang merah keinginan berbagai pihak yang terlibat kegiatan ini yakni agar ditetapkan Zonasi Tata Ruang Laut dengan peraturan dan kebijakan yang terkait secara komprehensif dan terintegrasi, dengan catatan turut melibatkan tokoh hukum adat setempat. Realisasi ini diperlukan untuk kepastian usaha masyarakat.

Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FKIP) Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, menerima tim pengembangan Techno Park Kab. Bantaeng dengan antusias bersama para senior dan dosen Unhas di aula FKIP Unhas. Dalam acara diskusi, tim Techno Park Kab. Bantaeng diwakili Wisman Indra Angkasa memaparkan rencana kegiatan pusat benih. Sebagai informasi, FKIP Unhas saat ini memiliki Tim Pengembangan, bersama Kementerian Kemaritiman membuat konsep Techno Park Kemaritiman. Oleh karena itu Dekan antusias untuk mendengarkan penjelasan tentang Techno Park yang ditugaskan pihak pemerintah kepada BPPT.

Dalam kunjungan ke Bappeda Prov. Sulawesi Selatan, tim Techno Park diterima Kasub Bidang Prasarana Wilayah. Dikatakan bahwa saat sedang dalam proses revisi RTRW Provinsi, dan istilah Techno Park akan dimasukkan kedalamnya, terutama untuk Kabupaten Bantaeng. Rofaidah mengatakan belum mengetahui kegiatan Techno Park Bantaeng. Untuk kegiatan selanjutnya, pihak BPPT agar melibatkan Bappeda Prov. Sulsel.

Dalam galeri foto, di urutan pertama dan kedua tampak Jamaluddin Jompa, Dekan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FKIP) Universitas Hasanuddin bersama tim Techno Park berdiskusi dengan para senior dan dosen Unhas mengenai rencana kegiatan pusat benih Techno Park Kab. Bantaeng. Selanjutnya. Ariany Rofaidah, Kasub Bidang Prasarana Wilayah (tengah) bersama tim Techno Park Kab. Bantaeng di kantor Bappeda Prov. Sulawesi Selatan, Makassar. Selanjutnya tim PPKDT bersama H. Iskandar (tengah), Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sulawesi Selatan. Kunjungan selanjutnya ke Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) Maros bersama Kepala Balai Muhammad Taufiq Ratule. Tim juga bertemu Sugeng Raharjo, Kepala Balai pada Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar. Tampak laboratorium basah Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, dengan kegiatan budidaya jenis rumput laut Lawi Lawi (Caulerpa sp) sebagai komoditas primadona masyarakat pesisir.  □ (LH/PPKDT)

Monev Techno Park Pelalawan 2015

Published in Berita

Pangkalan Kerinci - Pelalawan, BPPT dan Pemkab. Pelalawan melakukan monev terhadap pelaksanaan program QuickWin Techno Park Pelalawan, guna mereview perjalanan perkembangan pengembangan Techno Park Pelalawan. Sehingga dapat mempercepat peningkatan dan perbaikan di sisa paruh ke-dua tahun 2015.

Sekda Pelalawan Tengku Mukhlis mewakili Bupati Pelalawan HM. Harris membuka pelaksanaan kegiatan monev program Techno Park Pelalawan bertempat di ruang rapat Pembaharuan Kantor Bappeda Pelalawan, Rabu tanggal 1 Juli 2015. Hadir pada monev tersebut Sekretaris Utama BPPT Soni Solistia Wirawan, Deputi PKT BPPT Tatang A Taufik, Kepala Inspektorat BPPT Wawas Swathatafrijiah, Tim BPPT, Kepala SKPD di lingkungan Pemkab. Pelalawan, Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan Hasril Hasan Siregar dan perwakilan dari Bappenas.

Dikatakan Mukhlis, Program ini berguna untuk memperkuat memperkuat daya saing nasional melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan serta mencapai kemandirian ekonomi dan peningkatan daya saing daerah dan masyarakat dalam menghadapi persaingan global.

Kepala Bappeda M.Syahrul Syarif menjelaskan, “Yang menjadi fokus monev adalah kegiatan-kegiatan sampai akhir 2015 dan perencanaan kegiatan untuk tahun 2016. Pada tahun 2016 selain pembangunan fisik (infrastruktur) disiapkan juga calon teknopreneur (pengusaha Berbasis Teknologi) sebagai salah satu juan dari Tecno Park”.

Deputi PKT – BPPT Tatang Taufik menjelaskan, “untuk bisa berkembang menjadi bisnis inovatif dibutuhkan pengembangan rantai nilai industri yang kuat, melalui pendekatan klaster industri, diharapkan semua elemen dari pengembangan industri dapat diperkuat sehingga dapat menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan terhadap perekonomian lokal.”  Karena hal tersebut menjadi ukuran dari kehadiran Techno Park, pungkas Tatang.

Pada Rabu, 27 Mei 2015 telah dilakukan Rapat Koordinasi IV Kegiatan Pengembangan Techno park  Cimahi. Rapat koordinasi ini dipimpin oleh Hendra W. Soemantri selaku Asisten Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kota Cimahi dan Derry Pantjadarma selaku Penganggungjawab Kegiatan Pengembangan Techno park  Cimahi.

Agenda Rapat Koordinasi ke-IV ini adalah re-freshing dan pengenalan program Techno park  kepada pejabat struktural baru di SKPD-SKPD Kota Cimahi dan implementasi dari hasil Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BPPT dan Pemerintah Kota Cimahi.

Menurut Hendra W. Soemantri, mutasi pejabat di lingkungan Pemkot Cimahi tidak akan menghambat kegiatan Pengembangan Techno park Cimahi bahkan diharapkan dapat terjadi percepatan untuk setiap target yang ada pada program Techno park  ini.


Beberapa waktu yang lalu sudah dilangsungkan pertemuan Ibu Walikota dengan para pejabat SKPD yang baru dalam rangka pembahasan serta evaluasi PKS-PKS program Techno park  dengan BPPT. Beliau mengarahkan bahwa program secara riil harus sudah mulai berjalan mulai tahun 2015 ini. Berdasarkan evaluasi dan identifikasi PKS yang dilakukan bersama oleh ibu Walikota, beliau menghimbau agar SKPD yang belum terkait dengan kegiatan Techno park  agar diusulkan segera pada saat perubahan.

Dalam waktu dekat direncanakan akan membentuk Tim Sosialisasi yang bertugas bersama-sama dengan Tim Implementasi (dari SKPD) yang sudah ada saat ini untuk menyebarkan dan mensosialisasikan program Techno park  ini ke masyarakat luas, khususnya masyarakat kota Cimahi. Tugas dari Tim Sosialisasi ini akan dimulai pada tanggal 13 Juni 2015, dimana Pemkot Cimahi mengadakan pameran pembangunan di Lapangan Krida dengan tujuan memperkenalkan desain Techno park , sekaligus mensosialisasikan program Techno park  Cimahi.

Selain itu, menurut Hayun Anggara selaku Group Leader (GL) dari WBS Ekosistem Inovasi, salah satu cara sosisalisasi kegiatan Cimahi Techno park kepada masyarakat adalah dengan mengisi konten berita tentang berbagai kegiatan Techno park di website Pemerintah Kota Cimahi. Jadi seluruh hasil kerja yang dilakukan BPPT maupun Pemkot Cimahi khususnya mengenai Techno park dapat di publikasi di website tersebut. WBS Ekosistem Inovasi sudah meminta slot berita kepada KPDE (Kantor Arsip Perpustakaan dan Pengelolaan Data Elektronik).

Pada akhir Rapat Koordinasi ke-IV dihasilkan beberapa keputusan rapat, antara lain:

1. Sinkronisasi jadwal PKS antar mitra

2. Target desain masterplan Techno park  untuk acara 13 Juni 2015 pameran pembangunan di lapangan Krida

3.Tim kelembagaan yang akan dibentuk Pemkot Cimahi sebagai kunci percepatan sangat diharapkan, sehingga dapat mempercepat koordinasi kegiatan Techno park . Nantinya akan berkoordinasi langsung dengan Troika Program Techno park  Cimahi-BPPT

4. Segera koordinasi kesepakatan jadwal untuk FGD-FGD tematik

5.Target, output rencana jangka pendek dan panjang segera diselesaikan


Diharapkan setelah Rapat Kordinasi ke-IV ini dalam dilakukan Focus Group Discussion (FGD) besar yang dapat mempertemukan antara Akademisi, Pelaku Usaha, Pemerintah dan Komunitas yang akan terlibat dalam kegiatan Pengembangan Techno park  Cimahi. (NGP)

Diskusi Pengelolaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan

Published in Berita

Pelalawan, 4 Juni 2015. Bertempat di Ruang Rapat Bappeda Kabupaten Pelalawan, Tim Teknopark PPKDT mengadakan diskusi dan pembaruan informasi terkait pengembangan technopark Pelalawan. Hal yang dibahas dalam diskusi ini adalah perizinan Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (ST2P), kelembagaan, business plan dan pengembangan website technopark Pelalawan.

Perijinan ST2P masih dalam tahap verifikasi (ijin belum keluar), terkait status lahan sudah clear di luar kawasan, sedangkan yang di dalam masih melalui proses panjang. Terkait dengan proyeksi menjadi KEK, ada dua opsi yang bisa ditempuh, yaitu diusulkan oleh Badan Usaha atau Pemerintah Kabupaten.

Terkait dengan kelembagaan, status pengelolaan kegiatan dalam kawasan teknopolitan sudah dilegalkan berdasarkan peraturan Bupati No. 32 tahun 2015 tentang Pengelolaan Dan Pembangunan Kawasan Teknopolitan Pelalawan. Sementara ini UPT dikelola di bawah Bappeda dan bisa dibantu dinas lain. Kantor secara fisik belum ada di kawasan, aktivitas juga belum terlalu banyak dan biaya operasional masih rendah. Kebanyakan kegiatan masih berkoordinasi dengan BPPT. Kegiatan teknis di lapangan diserahkan kepada Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT). Kendala yang ada adalah tupoksi di UPT sifatnya administratif, kebijakan masih ditentukan oleh Bappeda dan Bupati. . Bappeda Pelalawan menginginkan UPT mempunyai tupoksi yang jelas. Untuk mempertegas peran UPT maka perlu disusun rencana strategis mulai dari misi, visi, kebijakan, program kerja sampai dengan prosedur operasional. Untuk perekrutan pegawai bisa menggunakan outsourcing, ditempatkan sesuai kebutuhan yang sudah diatur pada peraturan gubernur (pergub tentang kawasan sudah ditandatangani).

Dalam pasal 13 Perbup No. 32 tahun 2015 disebutkan bahwa Pengelolaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan dilakukan dengan berorientasi bisnis dan sosial serta menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah. Oleh sebab itu perlu disusun business model/plan agar harapan memperoleh pemasukan untuk pendapatan asli daerah dapat terwujud. Sehubungan dengan itu akan dilaksanakan peningkatan kapasitas tim teknopolitan dalam penyusunan business plan pada pertengahan Juni 2015.

Diskusi diakhiri dengan pembahasan website Kawasan Teknopolitan yang akan dikelola oleh UPT Teknopolitan. Website kawasan teknopolitan berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi technopark kepada stakeholder, mempromosikan produk dan jasa yang terdapat dalam kawasan technopark, dan menumbuhkan dan mempromosikan start-up company. Pada tahap awal website teknopolitan diharapkan dikelola oleh tim dari UPT dibantu oleh pengelola di Kantor PDE. (ai)

 

 

 

 

 

 

 

 

PUSAT UNGGULAN BENIH di Indonesia Bagian Timur, itulah visi pembangunan Techno Park di Kabupaten Bantaeng. Wilayah ini diarahkan menjadi kawasan teknologi benih yang didalamnya mencakup kegiatan-kegiatan pengembangan varietas, penilaian dan pelepasan varietas, produksi benih, pengolahan (pengeringan, pembersihan, sortasi/grading/pemilahan, seed treatment), penyimpanan, pengujian (daya kecambah, kadar air, kemurnian), dan sertifikasi benih.

Sebagai tindak lanjut dilaksanakannya penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BPPT dengan Pemerintah Kabupaten Bantaeng di Gedung Balai Kartini, Bantaeng pada 5 Maret 2015, tim BPPTmengunjungi Bappeda Kabupaten Bantaeng dengan tujuan melakukan pendalaman mengenai strategi pengembangan kawasan dan desain pusat serta model lembaga pengelola Techno Park Bantaeng. Kunjungan ke Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau di Maros untuk melakukan diskusi mengenai peluang pengembangan jaringan inovasi dan kolaborasi antara instansi ybs. dengan Technopark Bantaeng. Juga kunjungan ke Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) untuk berdiskusi mengenai jaringan inovasi dan kolaborasi dalam kaitannya dengan pengembangan Techno Park Bantaeng.

Dalam galeri foto, di urutan pertama tampak Bupati Kab. Bantaeng H.M. Nurdin Abdullah (berpakaian safari hitam) bersama Kepala Bappeda Kab. Bantaeng Abdul Wahab (ujung kiri), Anugerah Widiyanto (Kepala Balai Inkubator Teknologi) dan Yenni Bakhtiar (Kepala Bidang Kelembagaan Difusi Teknologi). Pada kesempatan pertemuan itu Bupati mengatakan berbagai hal berkaitan dengan pengembangan/pembangunan di wilayah Kab. Bantaeng, dengan kata kunci swasembada, pusat benih, rekayasa teknologi. Dalam Kawasan Manajemen Techno Park Kab. Bantaeng dengan luas 3,9 ha, direncanakan hadirnya bangunan ramah lingkungan yang berdesain minimalis dengan tampilan ornamen sesuai dengan budaya lokal. Bupati mengatakan bila diperlukan perluasan lahan untuk berbagai peruntukan yang lain, antara lain dengan akan dibangunnya dermaga, wilayah itu akan diperluas ke arah laut dengan melakukan reklamasi pantai, yang akan membuat pemandangan di wilayah itu semakin indah.

Foto selanjutnya, dalam acara yang lain, tampak Yenni Bakhtiar memaparkan rencana kegiatan pembangunan pusat benih Techno Park Bantaeng di hadapan Ka. Bappeda dan BPS serta para SKPD dalam Rapat Koordinasi Tim Penanggulangan Kemiskinan yang antara lain membicarakan pemutakhiran data kemiskinan di wilayah Kab. Bantaeng. Pada kesempatan itu Ka. Bappeda mengemukakan bahwa kegiatan pembangunan Techno Park Bantaeng sebagai hal penting untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sebagai salah satu pilar pembangunandikaitkan dengan penanggulangan kemiskinan, Pusat Benih Berbasis Teknologi dianggarkan 10 milyar. Untuk menanggulangi kemiskinan, rumusan kebijakan lokal akan dikeluarkan oleh Pemkab Bantaeng. Dalam kesempatan tersebut tampak Ai Nelly (Kepala Bidang Kapasitas Absorpsi) bersama Tim Peningkatan Kapasitas Inovasi Daerahdi Kab. Bantaeng Louise Hutauruk dan Taufiq Dwi Tamtomo. Juga, dalam foto berikutnya, bersama anggota timAgus Sucipto. Foto selanjutnya, kunjungan ke Kecamatan Uluere yakni lokasi Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Bantaeng. Laboratorium ini membutuhkan SDM sesuai dengan kompetensinya dalam hal kultur jaringan tanaman, secepatnya. □ (LH/PPKDT)

 

Indonesia termasuk salah satu negara di Asia yang dinilai mengalami kemajuan cukup pesat. Sebagai contoh, peringkat daya saing Indonesia 2013 meningkat tajam, naik ke peringkat 38 dari peringkat 50 tahun 2012 (World Economics Forum/WEF,Global Competitivenes Report 2013-2014). Namun di sisi lain, masih demikian banyak tantangan yang perlu diatasi. Sejauh ini, perkembangan pertumbuhan ekonomi beserta kualitas kemajuan ekonomi dan laju pertumbuhan penduduk yang masih tinggi, belum dapat membawa Indonesia naik kelas ke kelompok negara maju/berpendapatan tinggi.
Banyak prakarsa yang telah dilakukan dalam konteks meningkatkan produktivitas bangsa dalam lingkup daerah maupun nasional, dengan usaha  menumbuh kembangkan perusahaan pemula dan bisnis inovatif di Indonesia. Selama perjalanan otonomi daerah, banyak kepala daerah yang telah melakukan langkah terobosan kreatif-inovatif untuk keberhasilan pembangunan di daerah masing-masing. Sebagai contoh prakarsa pembentukan Pusat Inovasi, dalam pembangunan Science dan Technology Park di daerah maupun National Science and Technology Park di Kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan.


Pusat Inovasi adalah suatu organisasi atau unit organisasi yang berfungsi sebagai simpul, hub atau gateway dari jaringan kemitraan yang memberikan jasa layanan terpadu untuk menumbuhkembangkan perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) dan bisnis yang inovatif. Beberapa tokoh usia muda Indonesia berhasil membangun PPBT dan bisnis inovatif, bahkan memperoleh apresiasi secara internasional. Banyak pula yang luput dari perhatian kita dan tidak terliput oleh media massa. Namun mereka adalah para pemimpin, pionir, pelopor, para inovator yang berkontribusi nyata bagi pembaruan Indonesia. Saat inilah momentum terbaik agar para champion tersebut saling berbagi pengalaman untuk pembelajaran dan meningkatkan langkah-langkah perbaikan ke depan.
Pengembangan usaha keci lmenengah inovatif perlu di akselerasi supaya dapat meningkatkan kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat. Sejak tahun 2012 BPPT berusaha mendorong dan berkolaborasi dengan daerah-daerah mitra serta perguruan tinggi untuk bersama-sama mengembangkan UKM inovatif melalui Pusat-Pusat Inovasi.
Kegiatan technopreneurship camp ini merupakan upaya dalam mencari potensi-potensi bisnis dari kalangan muda umumnya, dan khususnya dari wilayah Tangerang Selatan,  baik dari lingkungan perguruan tinggi maupun masyarakat umum. Ide-ide bisnis yang cemerlang akan diikutkan dalam proses inkubasi di Balai Inkubator Teknologi – BPPT.
Dalam upaya tersebut BPPT mengajak ITI (Institut Teknologi Indonesia) dan Pemkot Tangerang Selatan menggali potensi-potensi bisnis yang dapat dikembangkan. Misalnya potensi bisnis anggrek, bisnis kuliner dan bisnis-bisnis teknologi yang produknya banyak dihasilkan oleh lembaga litbang di Puspiptek danPerguruan-perguruan tinggi yang banyak terdapat di Kota Tangerang Selatan.
Acara ini diikuti oleh sekitar 200 peserta baik barasal dari Perguruan tinggi di Tangsel, UKM inovatif di sekitar Tangsel dan berlangsung selama tiga dari tanggal 4  -  6 Juni 2015. Sedangkan narasumbernya berasal dari BPPT, ITI, para praktisi bisnis, lembaga pembiayaan dll. Materi diawali dengan konsep teknopreneurship, motivasi bisnis dan materi teknis bagaimana menyusun rencana bisnis. Kegiatan akan diakhiri dengan presentasi bisnis dari peserta dihadapan juri yang akan menentukan bisnis tersebut layak atau tidak untuk dikomersialkan.
Selain peserta dari kalangan calon teknoprener, beberapa daerah mitra juga mengirimkan tim untuk ikut belajar dan memahami teknis menjaring potensi bisnis melalui technopreneurship camp. Dengan mengetahui teknis pelaksanaannya maka diharapkan akan mampu melakukan kegiatan seperti ini di lokasi masing-masing.
Perguruan tinggi yang bermitra dengan BPPT dalam membangun Pusat Inovasi diharapkan juga dapat mengadopsi kurikulum teknoprenership. Kurikulum Teknoprenership merupakan komponen yang komplementer bagi perguruan tinggi yang akan membangun Pusat Inovasi. Karena dengan kurikulum teknoprenership tersebut akan tumbuh minat dan semangat untuk menjadi teknoprener dari kalangan mahasiswa. Dengan demikian akan dapat menjadi sumbe rbagi calon tenant yang akan dibina melalui Pusat Inovasi di Perguruan Tinggi tersebut.
Kegiatan talent schouting/technopreneurship camp untuk menjaring calon teknoprener ini akan dilakukan secara rutin setiap tahun dengan peserta dari kalangan pemuda.

Dalam rangka menindaklanjuti kerjasama kegiatan techno park kota Pekalongan, hari selasa 26 Mei 2015 Pemerintah Kota Pekalongan mengadakan rapat koordinasi dengan BPPT untuk menyamakan persepsi antara pemerintah kota Pekalongan dan BPPT terkait output kegiatan yang akan dilakukan di tahun 2015. Acara dihadiri oleh perwakilan mitra kerja yaitu antara lain dari Ristekin, DPPK, BPMP2T, DPU, BLH, bagian hukum, FEDEP, Bappeda, Dinsosnakertrans, BLH, DPU, dan dinas-dinas lainnya yang terkait di Pemerintahan Kota Pekalongan. Acara dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Pekalongan dan Deputi Kepala BPPT Bidang PKT, yang dilanjutkan dengan diskusi panel tiap WBS dan paparan hasil diskusi dari masing-masing WBS.

Berdasarkan hasil diskusi tersebut, kegiatan Techno park Kota Pekalongan yang terdiri dari 8 WBS memiliki target output 2015, yaitu :

1.WBS 1 - Pengembangan Budidaya Ikan dan IMTA, output 2015 yaitu (i) Satu paket teknologi pembesaran Ikan Nila Uggul (Demplot), (ii) Terbentuknya 2 kelompok pembudidaya ikan Nila Unggul, (iii) Satu paket data kualitas fisika, kimia, biologi dan mikrobiologi air di  kawasan pengembangan budidaya perikanan, serta (iv) Dua kali pelatihan budidaya ikan Nila Unggul dan Budidaya perikanan model IMTA berbasis Sato Umi

2.WBS 2 - Penerapan Teknologi Pengolahan Ikan, output 2015 yaitu : (i) Meningkatnya pemanfaatan teknologi pengolahan hasil perikanan (20 KUB terlatih), (ii) Meningkatnya keragaman produk olahan perikanan (4 produk), (iii) berkembangnya pemanfaatan teknologi pengemasan (4 teknik kemasan), (iv) meningkatnya sanitasi penanganan hasil perikanan (1 panduan), serta (v) Meningkatnya mutu hasil perikanan (4 produk tersertifikasi analisis).

3.WBS 3 - Pengembangan Ekosistem Inovasi, output 2015 yaitu (i) peningkatan Pelayanan Perizinan Bisnis dan Investasi untuk mendukung techno park (5 perizinan), (ii) Kelembagaan Pendamping Techno Park, (iii) 10 (sepuluh) orang Tenaga Pendamping Penghubung Techno Park (Capacity Building), (iv) Pengembangan Kearifan Lokal Perikanan, (v) 1 (satu) kerjasama antar daerah dan 1 (satu) kerjasama antara daerah dengan pusat, serta (vi) Desain Penataan Pantai Berwawasan Lingkungan 

4.WBS 4 - Peningkatan Daya Saing Industrial, output 2015 yaitu (i) Rantai nilai klaster industri (KI) menguat, (ii) Model bisnis di KI berkembang,serta  (iii) Kemampuan IPTEKIN stakeholders KI meningkat 

5.WBS 5 - peningkatan kapasitas inovatif daerah output 2015 yaitu (i) 1 (satu) Dokumen masterplan technopark, (ii) 1 (satu) Dokumen KLHS, (iii) 1 (satu)  Rekomendasi manajemen techno park, (iv) 25 orang dari litbangyasa meningkat kapasitas manajemen invensinya, (v) 25 orang org dari UKM perikanan meningkat kapasitas manajemen inovasi dan absorpsinya, serta (vi) 1 (satu) media promosi/sosialisasi 

6.WBS 6 - Pengembangan UKM Inovatif, output 2015 yaitu (i) 1 (satu) PI di tahun 2015, (ii) Pengelola PI terlatih, (iii) 20 UKM Inovatif terseleksi dan 5 yang diinkubasi, (iv) 5 (lima) pengusaha Pemula Berbasis Teknologi graduate, Inovatif, serta (v) 1 (satu) PKBL BUMN dimanfaatkan oleh UKM 

7.WBS 7 - Peningkatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar, output 2015 yaitu (i) Masterplan – Perancangan infrastruktur dan jaringan penyediaan energi bagi kawasan, (ii) Peralatan penyedia energi untuk menunjang peralatan industri perikanan (cold storage, dll), (iii) Perancangan infrastruktur dan jaringan pengelolaan limbah bagi kawasan, serta (iv) Peralatan penanganan limbah industri bagi pemenuhan kebutuhan peralatan penunjang industri perikanan

8.WBS 8 - Pengembangan Knowledge Management (WBS 8), output 2015 yaitu (i) literatur fitur dari suatu aplikasi KMS, (ii) Desain dan Framework/Prototype  Aplikasi KMS berbasis Web dan Mobile untuk Techno park Kota Pekalongan, serta (iii) Aplikasi Kolaborasi Komponen Techno park (melalui IPTEKNET) 

Kegiatan techno park perikanan kota Pekalongan diharapkan dapat dirasakan baik masyarakat kota Pekalongan maupun masyarakat sekitar serta mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. 

 

Dalam rangka mendukung pengembangan Techno Park Pangan Kabupaten Grobogan, Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi (PPKDT), Iwan Sudrajat, dan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Grobogan, Pudjo Albachrun, melakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) Pengembangan Kapasitas Inovatif di Jakarta (20 Mei 2015) disaksikan oleh Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Listyani Wijayanti. Acara penandatanganan PKS tersebut bersamaan dengan acara Focus Group Discussion “Implementasi Pengembangan Pangan Lokal Untuk Mendukung Ketahanan Pangan”.

Tujuan Perjanjian Kerjasama ini adalah untuk mengembangkan kapasitas inovatif daerah Techno Park Pangan Dalam Rangka mendukung peningkatan program penguatan sistem inovasi di Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Adapun ruang lingkup Perjanjian Kerjasama ini adalah: Penyusunan masterplan pengembangan kawasan Techno park, Penyusunan Model Kelembagaan Kawasan Techno Park, Penyusunan Business Plan Techno Park dan Penyusunan Peta Kebutuhan Teknologi.

 

Perjanjian ini berlangsung untuk jangka waktu 8 (delapan) bulan terhitung sejak tanggal ditandatanganinya Perjanjian Kerjasama ini dan dapat berakhir atau batal dengan sendirinya apabila ada ketentuan perundang-undangan atau kebijaksanaan pemerintah yang tidak memungkinkan berlangsungnya Perjanjian Kerjasama (PPKDT).

Semangat Technopreneurship Merasuki Mahasiswa UNY

Published in Berita

Menginjak hari kedua perayaan Dies Natalis ke-51 UNY tepatnya hari Minggu, 10 Mei 2015, UNY mengadakan Seminar Nasional Technopreneurship dengan tema “Pengoptimalan Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Technopreneur Mengarah Pada Inkubasi Teknologi Berbasis Mutu”. Hadir sebagai pembicara utama Kepala Balai Inkubator Teknologi (BIT) BPPT Anugerah Widiyanto, dan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Slamet. Hadir juga sebagai pembicara sekaligus perwakilan Mandiri Young Technopreneur  (MYT) Ii Ratna Yanti Kosasih.

Dalam senimar ini, Kepala BIT menjelaskan untuk menjadi negara maju Indonesia minimal harus memiliki enterpreneur sebanyak 2% dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah yang tidak mustahil jika anak-anak muda Indonesia khususnya para mahasiswa mempunyai kemampuan dan semangat  enterpreneurship yang tinggi dan pantang  menyerah. Prosentase tersebut juga harus diisi oleh mereka enterpreneur-enterpreneur dalam bidang teknologi yang disebut dengan teknopreneur. Teknopreneur yang mempunyai keunikan dalam bidang usahanya diharapkan lahir dari mahasiswa-mahasiswa sejak mereka masih menempuh pendidikan di kampus. Ide-ide inovatif yang ada dalam benak mahasiswa harus bisa diwujudkan dan dikonversikan menjadi bisnis yang inovatif. Tentu hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan Kepala BIT menyampaikan BIT sebagai lembaga yang mempunyai tugas menumbuhkan perusahaan-perusahaan pemula berbasis teknologi siap mendampingi setiap mahasiswa yang memiliki inovasi teknologi, semangat dan komitmen yang tinggi untuk menjadi pengusaha-pengusaha yang unggul di bidang teknologi.

Disampaikan juga oleh Guru Besar Fakultas Teknik UNY, Slamet mengatakan untuk menjadi seorang enterpreneur harus mempunyai semangat yang tinggi dalam berusaha, pantang menyerah dan mampu membaca peluang dengan baik. Usaha - usaha ini bisa dimulai dari sekarang, saat kita masih berstatus mahasiswa. Dari sekarang mahasiswa harus sudah menentukan pilihannya, mau jadi apa setelah lulus nanti. Jika ingin menjadi seorang enterpreneur maka dia harus melakukannya sejak sekarang, jangan menunggu sampai menjadi sarjana. Karena tidak ada pengusaha sukses yang tidak pernah mengalami jatuh bangun. Maka salah satu pesan beliau untuk para mahasiswa, Do It ! lakukanlah mulai sekarang.

Hadir sebagai contoh profil sukses teknopreneur Indonesia Ii Ratna Yanti Kosasih menceritakan bahwa dirinya menjadi seorang technopreneur dimulai sejak masih di bangku kuliah. Berawal dari riset yang dilakukan oleh tim saat kuliah di Institut Teknologi Bandung untuk memberikan solusi kebutuhan teknologi tepat guna bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM), tercipta mini boiler. Mini Boiler yang mereka rancang terbukti hemat bahan bakar dan lebih efisien waktu proses hingga 70 %. Atas hasil inovasi teknologi ini telah menyabet tiga besar kompetisi hijau INOTEK dan juara satu Mandiri Young Technopreneur 2014 Kategori Non Digital.

Inovasi itu tidak harus canggih , cukup sederhana dan tepat guna, maka semua orang bisa menjadi inovator. Semangat inovasi untuk Indonesia (bit/nvy).

391881
Hari iniHari ini120
KemarinKemarin128
Minggu iniMinggu ini214
Bulan iniBulan ini2554
Seluruh hariSeluruh hari391881
Statistik created: 2017-11-21T06:13:33+00:00