Gerbang Indah Nusantara

Switch to desktop Register Login

Error
  • JUser: :_load: Unable to load user with ID: 888

Berita (153)

RELAWAN MUDA BERINOVASI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Published in Berita

Sekitar 85 (delapan puluh Lima) mahasiswa/mahasiswi Universitas Diponegoro Semarang dari berbagai Fakultas pada tanggal 16 November 2013 melakukan ikrar untuk menjadi bagian dari Relawan Muda Berinovasi. Setelah ikrar para relawan muda ini langsung membagi diri menjadi beberapa kelompok dimana satu kelompok terdiri atas 6 orang tujuannya agar setiap kelompok bisa lebih mengembangkan ide secara lebih Fleksibel, lalu di lakukan rencana untuk melakukan observasi dan aksi nyata di Dusun Panda’an Kelurahan Podorejo Kecamatan Ngaliyan di Kota Semarang yang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 17 November 2013.

Setelah sebelumnya melakukan pelatihan di Kampung Batik Kauman, kali ini Tim Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi – BPPT melakukan kegiatan pelatihan mengenai Dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dalam Manajemen Pengetahuan pada tanggal 11 - 12 November 2013 di Kampung Batik Pesindon. Acara terselenggara berkat kerjasama antara Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi dengan Bappeda Kota Pekalongan dan dibiayai dari anggaran daerah.

Acara diikuti oleh 25 peserta dari komunitas batik Pesindon dibuka oleh Kabid Litbang Bappeda Pekalongan Ibu Nur Chasanah. Kemudian dilanjutkan dengan paparan oleh Dr. Arwanto, MSi mengenai Peran TIK dalam Manajemen Pengetahuan. Saparudin, ST., MT memberikan penjelasan mengenai Manajemen Pengetahuan, apa manfaat dan pentingnya bagi usaha untuk meningkatkan daya saing. Dilanjutkan oleh Arie Rakhman Hakim, S.Kom yang menyampaikan materi pengenalan internet dan aplikasi pemasaran berbasis internet (e-commerce).

Materi terakhir yang cukup menarik minat peserta adalah pengukuran implementasi manajemen pengetahuan yang disampaikan oleh Drs. Puguh Suharso. Para peserta selain diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengukuran juga dipandu untuk menilai sendiri seberapa jauh mereka menerapkan manajemen pengetahuan di usahanya.

Pada kesempatan testimoni, para peserta mengharapkan agar kegiatan seperti ini dapat dilanjutkan pada masa mendatang dikarenakan pentingnya peningkatan kemampuan untuk mengelola pengetahuan dan memasarkan produk secara online di internet. (saparudin)

Bertempat di Kampung Batik Kauman, Pekalongan, Tim Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi – BPPT melakukan kegiatan pelatihan mengenai Dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dalam Manajemen Pengetahuan pada tanggal 6 – 7 November 2013. Acara terselenggara berkat kerjasama antara Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi dengan Bappeda Kota Pekalongan dan dibiayai dari anggaran daerah.

 

Acara yang diikuti oleh 25 peserta dari komunitas batik Kauman dan Lurah Kauman dibuka oleh Kabid Litbang Bappeda Pekalongan Ibu Nur Chasanah. Selanjutnya dengan paparan oleh Dr. Arwanto, MSi mengenai Peran TIK dalam Manajemen Pengetahuan. Saparudin, ST., MT memberikan penjelasan mengenai Manajemen Pengetahuan, apa manfaat dan pentingnya bagi usaha untuk meningkatkan daya saing. Dilanjutkan oleh Ir. Jarot S. Suroso, M.Eng yang menyampaikan materi pengenalan internet dan aplikasi pemasaran berbasis internet (e-commerce).

 

Drs. Puguh Suharso menyampaikan materi pelatihan mengenai pengukuran implementasi manajemen pengetahuan. Para peserta diajak untuk menilai sendiri seberapa jauh mereka menerapkan manajeme pengetahuan di usahanya. Meskipun keterbatasan peralatan pendukung, dari awal hingga akhir acara, peserta sangat antusias bahkan meminta dilanjutkan lagi pelatihan seperti ini.

Pada bagian akhir acara, ada testimoni peserta yaitu Bapak Faturrohman. Menurutnya pelatihan penggunaan aplikasi komputer dan internet akan sangat berguna bagi usaha batik dikarenakan banyak manfaat yang dapat diperoleh. (saparudin)

 

 

 

 

Tangerang Selatan – Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Tekologi, Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, BPPT mengadakan acar Focus Group Discussion (FDG) dengan tema Analisis Pengukuran Performansi Implementasi Manajemen Pengetahuan Dalam Rangka Penguatan Sistem Inovasi pada tanggal 17 Oktober 2013. Hadir dalam diskusi tersebut 2 orang narasumber yaitu Drs. Moh. Tomtom Makmur dari Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian serta Drs. Mauludin Hidayat, MSc dari Pusat Inovasi. Keduanya berasal dari LIPI. Fokus kegiatan ini adalah untuk mendiskusikan instrumen pengukuran implementasi manajemen pengetahuan yang sedang dikembangkan oleh Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi melalui Tim Kajian Manajemen Pengetahuan Untuk Penguatan Sistem Inovasi. Selain itu juga topik diskusi membahas mengenai budaya inovasi untuk terkait manajemen pengetahuan. Acara ini  dihadiri oleh seluruh staf Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi dan perwakilan dari masing-masing Unit Kerja di lingkungan Kedeputian Pengkajian Kebijakan Teknologi.

Acara dibuka oleh Kepala Bidang Manajemen Difusi Teknologi, Dr. Arwanto, MSi mewakili Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kecenderungan terjadinya “hilang” pengetahuan dari satu individu akibat pindah (mutasi, promosi atau turn over) perlu diantisipasi dengan menerapkan manajemen pengetahuan di suatu organisasi. Selanjutnya acara diskusi dipandu oleh Moderator Drs. Puguh Suharso.

Pada kesempatan diskusi, Group Leader WBS 3, Kasman, SE, MSi, menyampaikan kegiatan yang sudah dilakukan dan meminta masukan mengenai instrument pengukuran manajemen pengetahuan dari para narasumber. Selanjutnya Drs. Moh. Tomtom Makmur menyampaikan presentasi mengenai Sistem Manajemen Pengetahuan, dilanjutkan oleh Drs. Mauludin Hidayat, MSc berbicara mengenai Membangun Budaya Inovasi. Kedua narasumber juga memberi masukan mengenai instrumen pengukuran implementasi pengetahuan.

Saat sesi diskusi, banyak peserta yang memberikan masukan dan pertanyaan baik kepada Tim maupun kepada narasumber.  Namun karena keterbatasan waktu, acara diakhiri pada pukul 12.30 dan ditutup oleh Kepala Bidang Manajemen Difusi Teknologi, Dr. Arwanto, MSi. (Saparudin)

 

 

 

 

Kepala BPPT Resmikan PLTMG Langgam Pelalawan

Published in Berita

Masyarakat Pelalawan resmi memiliki pembangkit listrik untuk atasi krisis energi. Menyusul peresmian PLTG Langgam oleh Ketua BBPT Marzan A Iskandar.

Riauterkini-PANGKALANKERINCI- Kepala Badan Pusat Penelitian (BPPT) DR Ir, Marzan A Iskandar meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Langgam. Peresmian PLTMG Langgam dengan kapasitas daya 15 Megawatt ditandai dengan pemencetan tombol sirene, di Gedung daerah Laksamana Mangkudiraja, Jumat (25/10/13).

Dalam kesempatan itu, Kepala BPPT mengaku kaget, melihat proses kilat pembangunan PLTMG Langgam. "Saya ingat April tahun lalu, bersama pak Hatta Rajasa, juga Menristek datang kesini untuk melakukan, kerjasama kawasasan Teknopolitan melalui program MP3I, juga dibicarakan rencana pembangunan PLTMG ini," terangnya.

Kurun waktu itu, Pemkab Pelalawan bisa mewujudkan dalam waktu satu tahun. "Jelas saja ini sebuah kerja gila. Begitu sukses dan secepat kilat. Ini tentunya, bukan kerjaan mudah, akan tetapi pak bupati bisa mewujudkannya," tegas Marzan.

Meskipun, tahap awal kapasitas daya yang dihasilkan oleh PLTMG baru 15 MW. Akan tetapi ini sebuah langkah maju. "Tadi saya kelapangan, pak bupati menyebutkan bakal melakukan penambahan daya lagi yakni dengan membangun pembangkit baru dengan kapasitas mencapai 50 MW. Jika hal ini terealisasi sudah barang tentu Pelalawan bisa mengekpor daya ke daerah lain," ujarnya.

Dia yakin, Bupati Pelalawan bisa mewujudkan penambahan daya ini."Saya yakin lagi, kabupaten Pelalawan 100 persen sudah terpenuhi listrik dan tidak perlu lagi menunggu, bebas listrik tahun 2025," tandasnya.

EMP Bentu Pasok Gas ke PLTG Langgam

EMP Bentu Limited (sebelumnya bernama EMP Kalila Bentu) berkomitmen memasok gas ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Langgam, di Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Gas sebesar 3 MMscfd (Million Metric Standard Cubic Feet per Day) itu dipasok EMP Bentu dari Lapangan Seng dan Segat sejak 4 Agustus 2013.

Kepala Humas Energi Mega Persada (EMP) Heru Hardono mengatakan, pada tahap awal EMP Bentu memasok sejumlah rata-rata 1,7 MMscfd. Mengingat mesin milik PLTG Langgam tersebut baru bisa menyerap gas sebesar itu, sehubungan dengan kapasitas penyerapan listrik PLN.

“Nanti setelah PLN dapat menerima pasokan listrik dari Langgam Power secara penuh, EMP Bentu akan memasok gas secara penuh pula, yakni sebesar 3 MMscfd,” tutur Heru Hardono.

Heru menambahkan, pasokan gas sebesar 3 MMscfd tersebut sesuai dengan angka yang tertera dalam perjanjian jual beli gas (PJBG) yang ditandatangani oleh CEO Energi Mega Persada (EMP) Imam P Agustino dan Direktur PT Tuah Sekata, Sanusi, pada Jumat (2/8) lalu. EMP Bentu Limited akan terus memasok gas kepada PLTG Langgam sejak penandatanganan PJBG hingga 19 Mei 2021, atau hingga gas yang dipasok mencapai angka sebesar 8.121 BBTU.

“Komitmen pasokan gas EMP Bentu kepada PLTG Langgam ini merupakan langkah kongkrit perusahaan dalam mendukung program “Pelalawan Terang” yang dicanangkan oleh Bupati Pelalawan HM Harris. Tujuannya, agar lebih banyak masyarakat di Kabupaten Pelalawan bisa menikmati listrik,” terang Heru.***(feb) (disadur dari riauterkini.com)

Sebagai salah satu potensi ekonomi wilayah yang akan dikembangkan, Koridor Ekonomi Sumatera diproyeksikan sebagai Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional. Salah satu fokus kegiatan ekonomi di Koridor Ekonomi Sumatera adalah perkebunan kelapa sawit. Dalam MP3EI disebutkan bahwa dalam kegiatan ekonomi utama kelapa sawit masalah utama yang dihadapi adalah belum optimalnya upaya hilirisasi di dalam negeri.

            Terkait dengan hal tersebut, Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi (PPKDT), Kedeputian Pengkajian Kebijakan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Prospek Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit di Koridor Ekonomi Sumatera” pada tanggal 09 Oktober 2013, bertempat di Gedung Pusat Inovasi dan Bisnis, Kawasan Puspiptek Serpong. FGD tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi beberapa faktor penting terkait upaya hilirisasi industri kelapa sawit di Indonesia, diantaranya adalah grand strategy pengembangan industri hilir kelapa sawit, aspek teknologi untuk meningkatkan nilai tambah maupun efisiensi proses produksi termasuk juga prospek dan kendala di sektor ini. FGD tersebut dihadiri oleh narasumber dari Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) serta perwakilan dari PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk sebagai satu pelaku industri hilir kelapa sawit di Indonesia.

             Dibuka oleh Asep Husni Yasin Rosadi, selaku Direktur PPKDT, hasil paparan dan diskusi antara narasumber dan peserta menginformasikan bahwa hasil olahan dari kelapa sawit 70% di ekspor dalam bentuk CPO dan tidak mendapat nilai tambah yang signifikan. Hilirisasi industri kelapa sawit di Indonesia belum berjalan karena masih terhambat oleh faktor teknologi dan sumber daya manusia. Untuk mendukung MP3EI dan upaya hilirisasi industri kelapa sawit, pihak Kementerian Perindustrian telah merumuskan kebijakan Industri nasional dimana salah satunya adalah pengembangan Industri hilir kelapa sawit. Secara lebih detil kemudian disusun sebuah Road Map yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 13 Tahun 2010.

 

            Di lain pihak, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) selaku salah satu Asosiasi di bidang industri kelapa sawit menyatakan bahwa dunia barat sebenarnya ketakutan dengan pertumbuhan industri kelapa sawit di Indonesia sehingga mereka berupaya untuk memunculkan kampanye negatif terkait kelapa sawit dari sisi lingkungan dan kesehatan. Untuk mengimbangi kampanye negatif tersebut, PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk, menyarankan untuk mengcounter dengan cara ilmiah dimana salah satunya adalah dengan menerbitkan jurnal ilmiah yang diakui secara internasional.

Seminar “Pengembangan Teknoprener”di UNPAD

Published in Berita

Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, Dr. Tatang A. Taufik, berpartisipasi sebagai nara sumber dalam Seminar National Economic Seminar (NDC NES) 2013 yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran (UNPAD), Senin, 7 Oktober 2013 di Graha Sanusi Hardjadinata – UNPAD. Seminar yang dibuka oleh Wakil Dekan 1 UNPAD ini bertema How Information Technology Become a Strategic Tool in Developing Entrepreneurship.

Dalam paparannya yang berjudul “Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pengembangan Bisnis Inovatif (Teknoprener)”, Tatang Taufik mengungkap bagaimana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berperan dalam pembangunan nasional. Dua peran penting TIK, menurut Tatang, adalah sebagai “sektor/bidang industri” yang berkembang pesat dan semakin penting di Indonesia dan sebagai “alat strategis” pengembangan bisnis, khususnya bisnis inovatif (teknoprener). Selain menyampaikan beberapa hasil pengkajian dan penerapan TIK oleh BPPT, Tatang juga menjelaskan bagaimana peran BPPT dalam mendorong pengembangan teknoprener di Indonesia. Bahan paparan tersebut dapat diunduh di sini. (Tt)

Bahan Paparan

 

 

 

 

Seminar APEC UNTHINKABLE WEEK 2013 di Bali

Published in Berita

 

 

Di antara serangkaian acara APEC di Bali 2013, adalah APEC UNTHINKABLE WEEK 2013 (2 – 5 Oktober 2013). UNTHINKABLE WEEK merupakan branding atau icon dari aktivitas koordinasi yang dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sejak tahun 2009 sebagai side event pada acara-acara internasional atau nasional tertentu untuk menunjukan hasil-hasil kegiatan dan prestasi masyarakat Indonesia dalam pelaksanaan Program Kebijakan Pengembangan Kewirausahaan guna menginspirasi dan mendorong perluasan kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia, khususnya pemuda dan wirausaha pemula.

Salah satu acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Bidang Perekonomian Republik Indonesia adalah Sosialisasi Kebijakan Perniagaan dan Kewirausahaan Nasional, yang bertema “FORUM PATENT PROMOTOR.” Tak kurang dari 400 peserta menghadiri acara tersebut yang diselenggarakan di Bali, 3 Oktober 2013.

Dimoderatori oleh Dr Raldi Kastoer (staf ahli bidang Inovasi Teknologi dan Lingkungan Hidup – Kemenko Bidang Ekonomi), acara tersebut menghadirkan para pembicara : Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (Prof. Dr. Ahmad M. Ramli), Presiden UCEC - Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (Ir. Antonius Tanan, MBA, MSc.), Deputi Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi – BSN (Dra. Dewi Odjar Ratna Komala, MM), dan Deputi Kepala BPPT Bidang PKT – BPPT (Dr Tatang A. Taufik).

Bahan paparan Dr Tatang A. Taufik dapat diunduh di sini.

1. Scribd, atau

2. Slideshare

 

Pada tanggal 23 September 2013, BPPT diwakili oleh Deputi Kepala BPPT Bidang PKT, Tatang A. Taufik, Kepala Balai Inkubator Teknologi, Iwan Sudrajat, melakukan kunjungan kerja ke Bandung Digital Valley (BDV), Geger Kalong Ilir, Bandung. Kunjungan kerja ini merupakan tindak lanjut dari MOU yang telah ditandatangani oleh BPPT dan PT Telkom Indonesia pada tanggal 10 September 2013. Dalam kunjungan tersebut, pihak BPPT disambut oleh Indra Utoyo selaku Director of Innovation and Strategic Portfolio PT Telkom Indonesia.

Acara dimulai dengan sambutan Tatang yang menjelaskan tentang Sistem Inovasi Nasional. Dijelaskan Tatang pula bahwa salah satu upaya percepatan pembangunan ekonomi adalah dengan melakukan upaya sistem inovasi di tataran daerah. Adapun siasat yang saat ini dilakukan adalah dengan mendorong berkembangnya daerah-daerah yang menjadi percontohan, seperti yang saat ini digerakkan oleh BPPT di lima daerah, yaitu Pelalawan, Cimahi, Pekalongan, Bangli dan Kapuas Hulu.

Presentasi tentang BDV disampaikan oleh Indra Utoyo. Dalam presentasinya, Utoyo memaparkan bahwa dalam hal prestasi, PT Telkom Indonesia telah masuk dalam Fortune 500 sebagai mandat dari Presiden RI, Fortune 100 Indonesia selama 2 tahun berturut-turut (2012 dan 2013) masuk sebagai peringkat ke-2 dan dalam Forbes Global 2000 posisi PT Telkom Indonesia berada di bawah Singtel, yaitu peringkat ke-2.

Sebagai BUMN yang memiliki visi “To become the Leading Telecommunication, Information, Media & Edutainment, and Services (TIMES) Player in the Region”, PT Telkom Indonesia merasa perlu untuk melakukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan industri kreatif di bidang digital, salah satunya adalah dengan mendirikan BDV. Bekerja sama dengan Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), PT Telkom Indonesia membuat program-program kegiatan inkubasi yang akan menghasilkan tenant-tenant yang mandiri, baik secara konsep, teknik dan jejaring. MIKTI adalah perkumpulan yang berbasis hukum yang menjadi pengelola BDV dan bertugas untuk merangkul komunitas.

PT Telkom Indonesia sangat menyadari bahwa membangun entrepreuner adalah investasi sosial, sehingga perlu mengembangkan inkubator sejenis di wilayah-wilayah yang merupakan bagian dari Top Creative Cities menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mar’ie Elka Pangestu, salah satunya adalah Jogja, yang akan dinamakan Jogja Digital Valley. Proyek ini diberi dana sebesar 60 milyar untuk operasional selama tiga tahun.

Akhir kata, PT Telkom Indonesia siap membantu upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan fasilitas TIK di daerah tersebut.(hk)

 

Sosialisasi Penguatan Sistem Inovasi Di Provinsi DIY

Published in Berita

Dengan disahkannya Undang-undang Nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, maka Pemerintah Provinsi DIY perlu segera menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) baru.

Langkah-langkah perubahan pembangunan yang semakin berbasis pengetahuandipandang sangat penting dikembangkan ke depan. Sejalan dengan itu, perluasan wawasan para pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat tentang dinamika perubahan dan penyelaasan kebijakan pembangunan daerah dengan kebijakan nasional perlu terus dilakukan. Dalam kaitan inilah maka Sekretariat Daerah Provinsi DIY menghadirkan Dr. Tatang A. Taufik, Deputi Kepala BPPT Bidang PKT sebagai nara sumber untuk menyampaikan pemahaman tentang penguatan sistem inovasi dalam mendukung pembangunan daerah kepada perwakilan pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota, anggota Dewan Riset Daerah (DRD), perwakilan perguruan tinggi, Dewan Pendidikan, perwakilan dunia usaha, dan tokoh masyarakat di Provisi DIY, pada acara sosialisasi kebijakan nasional, Kamis, 26 September 2013 di Yogyakarta.

Dalam acara bertema “Membangun Sistem Inovasi Daerah untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat” tersebut, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov DIY, Dr. Ir. Didik Purwadi, M.Ec. yang dalam kesempatan tersebut membacakan sambutan Sekretaris Daerah, menyampaikan bahwa perluasan wawasan tentang kebijakan iptek dan inovasi ini penting agar pemerintah daerah beserta para pemangku kepentingan dapat lebih mengenali potensi terbaik Provinsi DIY dan menggali berbagai masukan langkah-langkah pembangunan ke depan yang juga selaras dengan kebijakan nasional agar dapat mendorong perbaikan daya saing dan kesejahteraan masyarakat DIY, sesuai dengan status keistimewaan yang disandangnya.

Dalam paparannya tentang “Kerangka Penguatan Sistem Inovasi untuk Mendukung Pembangunan Daerah”, Dr. Tatang Taufik , juga menyampaikan bahwa kata “I” (atau Istimewa) dalam DIY perlu semakin dimuati dengan “Inovasi” yang dapat membawa pemaknaan kekinian tentang keistimewaan DIY di tengah dinamika perubahan global saat ini dan ke depan. Jika merujuk kepada bebagai peraturan perundang-undangan yang ada, mulai UUD 945 hingga berbagai peraturan menteri, ditegaskan bahwa agenda penguatan sistem inovasi sudah seharusnya menjadi bagian integral dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi DIY.

Urut hadir dalam acara sosialisasi tersebut Iga M.S. (Asisten Deputi Inovasi Teknologi dan Rekayasa Industri di Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi), Dr. Derry Pantjadarma (Direktur PPKPDS-BPPT), dan Wiwiek Juliani (salah seorang Kabid di PPKPDS-BPPT).

Menjawab berbagai pertanyaan dari para peserta, Tatang juga menyampaikan tanggapan bahwa BPPT siap mendukung langkah-langkah pembangunan berbasis pengetahuan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY beserta segenap pemangku kepentingannya. Menanggapi beberapa permintaan saran, termasuk bagaimana sebaiknya penguatan kelembagaan di daerah dan pengembangan potensi unggulan DIY dikembangkan, Tatang menegaskan agar tidak perlu gamang dengan gagasan perubahan pembaruan. Dengan otonomi daerah yang seluas-lasnya, maka menurut Tatang, Provinsi DIY beserta kabupaten/kotanya memiliki tantangan sekaligus peluang yang sangat besar untuk cepat berkembang, memiliki warna keistimewaan keinovasian dan menjadi salah satu sumber inovasi dan inspirasi bagi Indonesia. (Tat)

391882
Hari iniHari ini121
KemarinKemarin128
Minggu iniMinggu ini215
Bulan iniBulan ini2555
Seluruh hariSeluruh hari391882
Statistik created: 2017-11-21T06:13:33+00:00