Gerbang Indah Nusantara

Switch to desktop Register Login

Rate this item
(0 votes)

Mengenal Geopark Gunung Batur, Bangli, Bali

 

MENGENAL GEOPARK GUNUNG BATUR, BANGLI, BALI

Oleh: Komarudin

 

 

  1. PENDAHULUAN

Sebagaimana diketahui, di dalam program Sistem Inovasi Daerah, Kedeputian Pengkajian Kebijakan Teknologi, Badan Pengkajiana dan Penerapan Teknologi terdapat 6 (enam) Kerangka Kerja Inovasi (KKI). Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi (PPKDT), Kedeputian Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi (DBPKT) pada 26 Juni 2013 telah menyusun kegiatan dalam Kerangka Kerja Inovasi Pemerintah Kabupaten Bangli. Salah satu program adalah Geopark Gunung Batur (Batur GlobalGeopark, BGG).

Diskusi Tim PPKDT PKT BPT dengan Pemkab Bangli tentang BGG pada 18-20 September 2013 di Bangli membahas (a) Koordinasi Tiga Kegiatan (Jaringan Inovasi, Manajemen Pengetahuan, dan Geopark/Teknopolitan); (b) Jaringan Inovasi (Innovation Network); (c) Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) mendukung Bangli Global Geopark (BGG); dan (d) Geopark dan Peluang Pembangunan Teknopolitan.

Makalah ini membahas program aksi, diskusi dengan pejabat Pemkab Bangli, workshop kepariwisataan membahas geopark, informasi tentang museum Kintamani yang antara lain berisi program geopark, dan informasi tentang master plangeopark.

 

  1. PROGRAM AKSI PENGEMBANGAN KAWASAN GEOPARK GUNUNG BATUR JANGKA PENDEK, JANGKA MENENGAH, DAN JANGKA PANJANG

Uraian detail Program Aksi Pengembangan Kawasan Batur Global Geopark Tahun 2013-2020 Jangka Pendek, Jangka Menengah, dan Jangka Panjang sebagai berikut.

Periode

Program Aksi

  1. Jangka

Pendek

  1. Pengembangan daya tarik wisata hutan Suter (areal parkir, rest area, jalan setapak, toilet, gerbang masuk, warung wisata, dan papan nama serta obyek peninjauan): Target: (1) tertatanya daya tarik wisata hutan/alam Suter sebagai destinasi pariwisata; dan (2) tersedianya sarana dan prasarana/fasilitas di daya tarik wisata. Dana: Rp 5 M.

  2. Pembangunan TIC di DTW Kintamani (bangunan TIC lengkap dengan sarana komputer, internet, dll.). Target: (1) tersedianya sarana infokom di DTW Kintamani; (2) tersedianya tenaga kerja profesional yang mampu memberikan informasi cepat; dan (3) tersedianya data dan informasi tentang pariwisata Kintamani. Dana: Rp 1 M.

  3. Pengembangan DTW Bukit Gede Bungbung Alengkong (akses jalan setapak, rest area, gazebo, gardu pandang, geosite, dan toilet). Target: (1) tertatanya DTW Bukit Gede Bungbung Alengkong sebagai DTW baru; dan (2) tersedianya sarana dan fasilitas di DTW). Dana: Rp 2 M.

  4. Pembangunan gedung serba guna pemuda pemudi di Toya Bungkah (gedung serba guna yang memadai). Target: tersedianya gedung serba guna sebagai penunjang kegiatan pemuda dan pariwisata. Dana: Rp 2 M.

  5. Penataan pertamanan dari Penelokan hingga perbatasan Desa Kedisan (sarana dan prasarana pertamanan). Target: tersedianya sarana dan prasarana pertamanan. Dana: Rp 0,5 M.

  6. Pembuatan pasar tradisional khas di Desa Kedisan (masakan kuliner, pasar bawang, buah-buahan, kerajinan Bangli, dan produk kopi). Target: tersedua sarana dan prasarana pasar tradisional). Dana: Rp --

  7. Pengadaan mobil pengamanan pariwisata (1 mobil di atas, 1 mobil di bawah, polpar, satpol pp, dishub, dan disbudpar). Target: tersedianya mobil dan personil dimaksud). Dana: Rp 0,5 M.

  8. Penataan Kawasan Pura Puncak Penulisan dan Pura Dalem Balingkang untuk dijadikan daya tarik wisata spiritual (sarana dan prasarana wisata spiritual). Target: tertatanya kawasan wisata spiritual. Dana: Rp 2 M.

  9. Peninggian Jalan Pinggan – Belandingan – Balik Bukit (menaikkan permukaan jalan). Target: terbangunnya jalan yang sudah dinaikkan). Dana: Rp 5 M.

  10. Penataan pertamanan di seluruh kawasan Geopark Batur (sarana dan prasarana pertamanan). Target: tertatanya sarana dan prasarana pertamanan. Dana: Rp 6 M.

  11. Pembuatan Sistem Pemungutan Tiket Satu Pintu DTW Kintamani dengan variasi tujuan: Penelokan – Kedisan – Kuburan; dan Penelokan – Pura Batur – Pura Penulisan (sarana dan prasarana pintu masuk dengan tarif yang jelas). Target: tertatanya sarana dan prasarana pintu masuk. Dana: Rp 0,2 M.

  12. Penataan SDM Pariwisata (pelatihan, etika pariwisata, profesionalitas, studi banding, brosur/leaflet, kesepakatan dengan masyarakat adat, keamanan dan kenyamanan). Target: tersedianya SDM pariwisata yang profesional. Dana: Rp --

  13. Penataan warung dan pedagang kaki lima (penataan warung dan pedagang kaki lima di pinggir hutan: pertigaan lampu, pertigaan Bubung Desa Suter dengan konsep green tourism). Target: tertatanya warung dan pedagang kaki lima mendukung green tourism). Dana: Rp 0,5 M.

  14. Pembangunan sarana dan prasarana pariwisata di Desa Batur Bangli (rest area, sarana pendukung jalan cross country dan fun bike). Target: tertatanya sarana dan prasarana rest area, jalan cross country dan fun bike, keamanan dan kenyamanan). Dana: Rp 7 M.

  15. Penataan DTW Pura Penulisan (sarana dan prasarana pariwisata: toilet, papan nama obyek wisata, area parkir, kios, dan tempat istirahat). Target: tertatanya lingkungan Pura Penulisan. Dana: Rp 1 M.

2. Jangka Menengah

  1. Pengembangan Kaldera Batur sebagai Kawasan Geopark (sarana dan prasarana kaldera, geosite, shelter tracking, TIC, toilet, panel-panel, baliho, dll.). Target: (1) tertatanya DTW baru Kaldera Batur; dan (2) terjaga dan terpeliharanya kawasan Batur Global Geopark. Dana: Rp 2 M.

  2. Pelestarian rumah tradisional Desa Trunyan (5-10 rumah contoh, pelestarian budaya dan adat Trunyan). Target: terbangunnya rumah contoh dan bentuk pelestarian budaya dan adat Trunyan). Dana: Rp 5 M.

  3. Penataan Desa Songan, Kedisan, Buahan, dan Abang menjdi Desa Wisata (penataan desa wisata). Target: tertatanya desa-desa wisata. Dana: Rp 2 M.

  4. Penataan Dermaga Trunyan, Kedisan, Toya Bungkah, dan Songan – Alternatif Lokasi (sarana dan prasarana dermaga). Target: terbangunnya dermaga). Dana: Rp 2 M.

  5. Penataan sarana dan prasarana serta kegiatan pendakian gunung (sarana dan prasarana pendakian). Target: tersedianya sarana dan prasarana pendakian, meeting room, tempat dagang, rest area, peta lokasi, dan petunjuk pendakian). Dana: Rp 1 M.

  6. Penataan Pasar Kintamani (pengelompokan pedagang, petunjuk, denah, tempat sampah, parkir, toilet, dan souvenir). Target: pasar yang aman, nyaman, bersih, dan indah). Dana: Rp 1 M.

  7. Pembangunan toilet bertaraf internasional di Desa Kedisan, Toya Bungkah, Buahan, dan Suter (toilet bertaraf internasional). Target: terbangunnya toilet bertaraf internasional. Dana: Rp 0,9 M.

  8. Pembangunan gardu pandang dan rest area di sekitar Danau Batur (gardu pandang dan rest area). Target: terbangunnya gardu pandang dan rest area). Dana: Rp 3 M.

  9. Pembangunan kembali Hotel Pelni dan Pesanggrahan Zaman Belanda di Kintamani (sarana dan prasarana hotel dan pesanggrahan). Target: terbangunnya hotel dan pesanggrahan. Dana: Rp 5 M.

3. Jangka Panjang

  1. Pembuatan jalan alternatif truk: Yeh Mampeh – Tandang Buana Sari – Kintamani (sarana dan prasarana jalan truk). Target: terbangunnya jalur baru mengatasi kemacetan jalur wisata Penelokan – Kedisan. Dana: Rp 2 M.

  2. Pembuatan jalan hot mix di sekeliling wilayah Danau Batur, Kedisan – Buahan – Abang – Trunyan – Toya Bungkah – Songan – Yeh Mampeh – Penelokan (jalan hot mix antarlokasi). Target: terbangunnya jalan hot mix. Dana: Rp 3 M.

  3. Pembuatan tangga menuju Pura Tuluk Biyu penunjang wisata spiritual (pembuatan tangga). Target: terbangunnya tangga menuju DTW Spiritual). Dana: Rp 0,5 M.

  4. Pembuatan jalan dari Besakih ke bawah menuju Desa Buahan mendukung wisata alam (jalan Besakih – Buahan). Target: terbangunnya jalan penunjang wisata alam. Dana: Rp 3 M.

  5. Penyediaan shuttle bus penunjang kegiatan pariwisata Kintamani (shuttle bus). Target: armada bis. Dana: Rp 0,8 M.

  6. Pembuatan jalan lingkar dari Culali menuju Desa Kintamani dan Desa Sukawana (jalan lingkar). Target: terbangunnya jalan lingkar sebagai jalan alternatif). Dana: Rp 10 M.

  7. Pembangunan sarana pendukung wisata panjat tebing di Desa Songan (sarana wisata panjat tebing penunjang pariwisata alam). Target: keamanan dan kenyamanan wisata panjat tebing dan pariwisata alam). Dana: Rp 2 M.

  8. Penataan lingkungan Kawasan DTWK Kintamani (sarana dan prasarana jalan setapak). Target: tertatanya jalan lingkungan, keamanan, dan kenyamanan). Dana: Rp 3 M.

  9. Pembangunan kembali model arsitektur Desa Batur Tua sebagai wahana baru dan daya tarik wisata di DTWK Kintamani (terbangunnnya kembali model arsitektur). Target: model arsitektur sebagai wahana baru dan daya tarik wisata. Dana: Rp 25 M.



  1. PROGRAM PEMERINTAH KABUPATEN BANGLI MENDUKUNG PROGRAM GEOPARK GUNUNG BATUR

    1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Budi Warnama Bappeda, Penanaman Modal: penanaman modal identik dengan kepentingan masyarakat. Geopark Batur “ibarat wanita cantik, tetapi mukanya saja, badan dan bagian tubuh lainnya belum diketahui.” Komentar wartawan, Geopark di ujung sekop, dan di ujung kartu merah. Perhatikan variabel-variabel geopark. Hasil rekaman rapat Destination Management Organization (DMO) Parekraf, Dirjen, Dandim, Bupati, Pemda, dll., melihat keberadaan geopark membuat dilematis. Sekarang belum ada perubahan apa-apa. Masalah paling mengganjal, dana kecil. Bappeda ditugaskan sebagai koordintor geopark. Kintamani sudah dicoret dari destinasi pariwisata, hanya sebagai obyek. Yang dipermasalahkan, ada galian C. Dalam waktu dekat akan ada Tim Pengendalian Galian C. Dari RTRW di Gunung Batur bukan pertambangan, seharusnya Karangasem, tetapi ada celah pertambangan rakyat. Ada danau. Ada DMO di Kintamani yanag tugasnya merencanakan, melaksanakan dan mengawasi/mengendalikan. Geopark yang berkelanjutan, dkomentari wartawan dengan ungkapan “Geopark tidak sustainable (berkelanjutan).”

  1. Prioritas Dinas Pariwisata dalam Pengembangan Geopark Gunung Batur

Bupati Bangli sudah menetapkan Peraturan Bupati Bangli Nomor 19 Tahun 2013 tentang Pengintegrasian materi Geopark ke dalam Kurikulum Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan Kabupaten Bangli. Kelembagaan Pengelola Geopark Batur (pembentukan kelembagaan geopark di tingkat daerah, pembangunan sekretariat geopark, dan kelengkapan struktur organisasi pengelola geopark disesuaikan dengan karakteristik daerah dan budaya, dana Rp 1 M; dan pembangunan posko pelayanan terpadu di lapangan, dana Rp 0,5 M).

Fisik dan Informasi Geosite (penambahan sign geosite di beberapa titik, dana Rp 0,5 M; revisi sign board agar lebih informatif, dana Rp 0,5 M; dan pemberdayaan penjaga geosite: Polhut, BKSDA, Satpol PP, Dishub, dan Polisi Pariwisata, dana Rp 0,05 M). Pengamanan Geosite (pembuatana manajemen konservasi geosite oleh lembaga pengelola bekerjasama dengan BKSDA, dana Rp 0,1 M; sosialisasi pelestarian dan pengamanan geosite kepada masyarakat, dana Rp 01 M; regulasi Pemkab berupa Perda; pembentukan tim pemantau dan pemelihara geosite, dana Rp 0,5 M; dan pemasangan pelinggih di lokasi-lokasi geosite, dana Rp 0,2 M). Sarana dan Prasarana jalan alternatif Utara – Selatan (Songan – Yon Mampeh) dan sarana pendukung BGG. Dana: Kementerian PU Rp --.

Wayan Bone, Kabid, Dispariwisata, menegaskan “Puji syukur kepada Tuhan, ohm swasti asthu.” Pemda telah berbuat untuk Geopark. Tahun 2012, pembangunan kios informasi geopark lokasi di kawasan, pembangunan geosite anggaran Rp 2M dan Anggaran DP (dana pembantuan). Dana APBD: 2M untuk jogging track. Masalah utama, pertanahan, yaitu kawasan masih dimiliki (urusan di tangan) BKSDA. Adapun museum dimiliki ESDM, dalam hal ini Badan Geologi Nasional. Agus Mulyadi, staf BPPT, mengatakan bahwa ada 15 desa yang akan ditata. Wayan Bone menimpali, pertama kali 15 desa, berkembang jadi kecamatan Kintamani, 48 desa. Semula di pinggiran Danau Batur, akan berkembang jadi sekitar kawasan Gunung Batur dan Kintamani, Kabupaten Bangli (plus geosite-geosite). Pembangunan terintegrasi. DMO Kemenparkraf focus pada 5 pembangunan di desa (LWG, local working group), masing-masing 5 klaster. Baru 1 (satu) tahun geopark ini. Tanggal 22 bulan ini akan dipasang 3 bendera 9 (Merah putih, Pemkab Bangli, dan Geopark di kawasan Festival Gunung Batur/Batur Global Geopark. Saat ini sudah ada 3 (tiga) pakar geopark, yaitu Kastawan, Marte, dan Ktut Suharte (arsitektur, geologi, dan kepariwisataan). Saat ini masih ditunggu ahli biologi. Sosialisasi telah diberikan dalam bentuk ceramah, gambar, dan pertemuan langsung. Juga telah dilakukan sosialisasi kepada anggota DPRD Kabaupaten Banagli.

Staf BPPT, Puguh Suharso, menanyakan apakah program kios informasi sudah sampai ke telecentre dan komunitas apa saja. Dijelaskan oleh Wayan, sudah ada website, kerjasama dengan kominfo (dana APBD), dan kelembagaannya akan dibentuk. Konsultan Geopark, Sheju Korea telaha memberikan saran pembangunan. Segera akan dibentuk kelembagaan, 15 desa Local Work Group (LWG). Staf BPPT lainnya, Komarudin, mengangkat berbagai isu, yaitu pengertian geopark, manajemen dan pelibatan publik lokal, pengembangan ekonomi, pendidikan dan pelatihan, perlindungan dan konservasi. Dari Master Plan Geopark, ada cukup banyak kata kunci, antara lain status hukum, pariwisata terpadu, OVOP atau one village one product, seni budaya, kepentingan ESDM dan Parekraf yang berlainan, diklat, pembangunan berkelanjutan, komitmen masyarakat lokal dan masyarakat adat, ekonomi kerakyatan, geotourism dan geoproduct).

Kemajuan saat ini belum menggembirakan, peran Pemkab belum terlihat nyata, kelembagaan BGG belum jelas, sosialisasi geopark kurang gencar, reklamasi kawasan pertambangan sulit dilakukan, pengambilan batu/pasir galian C susah dihentikan, leaflet dana brosur geopark belum ada, miniatur geopark belum dibangun, pengembangan industri rumahtangga belum jelas, pasar industri rumahtangga belum ada, promosi dan pemasaran masih lemah, dan pemanfaatan tenaga surya masih sedikit. Komarudin menyampaikana pemikiran agar diusulkan dan diperjuangkan “Inpres tentang Percepatan Pembangunan Geopark Gunung Batur” yang antara lain menugaskan dengan jelas kepada Menteri Parekraf, Menteri ESDM, Menteri LH, Menteri PU, Mendagri, Kepala LPNK terkait, Gubernur Bali, dan Bupati Bangli untuk mempercepat pembangunan geopark sesuai dengan tugas pokok, fungsi, dan kewenangan masing-masing.

Wayan mengatakan, Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Simplifikasi (KISS) gampang diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Egosektoral masih menonjol. Bupati sudah memerintahkan agar dinas-dinas menjual/memasarkan geopark. Kenyataannya, belum sesuai harapan. Pembuatan souvenir bambu sudah digalakkan, tetapi masih sulit dipasarkan. PLTS sudah ada, tetapi masih sedikit dan perlu ditambah. Peran provinsi masih kecil. Kerjasama dengan travel (ASITA) sudah dilakukan, tetapi belum ada kenaikan signifikan jumlah wisatawan. Untuk pengadaan infrastruktur, dibutuhkan koordinasi dan pembagian tugas pembangun dan pengelola jalan provinsi dan kabupaten. Koordinasi Kemen ESDM dan Kemen Parekraf kurang lancar: ego sektoral masih tinggi, sulit mengambil data, pembuatan film oleh parekraf tidak melibatkan pemda. Workshop Geopark tanggal 20 September 2013 yang diselenggarakan oleh Kemenprekraf tidak diisi kebijakan Kemenparekraf tentang Batur Global Geopark dan terkesan workshop tersebut bersifat lokal yang diisi penyaji dari pusat dan provinsi.

  1. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

I Nyoman Sutedja, Kabid Dikmen, Pemkab Bangli, menegaskan, Ranperda diikuti Perbup 19/2013 integrasi materi geopark ke dalam kurikulum sekolah. Pemahaman tentang geopark untuk akademik ke masayarakat sudah dimulai tahun ini (implementasi pembelajaran, kultur-sosial-budaya, melalui Disdik masuk ke dalam struktur kurikulum/pengintegrasian materi). Di sekolah masing-masing sesuai dengan kekhususannya sudah smelakukan sosialisasi dan merencanakan. Seperti apa disdik mengimplementasikan geopark ke dalam kurikulum, masih perlu dikaji dan diteliti.

Anak Agung Anom darididdikbud mengatakan bahwa pengawasan terhadap program SMK belum dievaluasi, karena belum setahun bertugas. Sosialisasi sudah dilakukan ke sekolah-sekolah tentang integrasi geopark ke dalam kurikulum. Keragaman budaya, hayati, biologi – disinkronkan dengan matapelajaran mana yang cocok. Tidak semua bagian kurikulum dapat diintegrasikan – bahasa, agama, matematika, IPA, geologi/geografi, seni budaya, penjaskes; sudah dilakukan sejak Juli 2013. Kendala yang ada, pemahaman guru terhadap geopark masih rendah.

Sutedja mengomentari pembahasan tadi melihat geopark secara akademik. Perlu infrastruktur (tahun lalu kepada pak Agus Pram, koordinator di BPPT, telg dititipkan proposal tentang pendidikan dalam pengembangan kepariwisataan. Kegiatan SMK disinergikan dan akan dibangun “SMK yang terintegrasi”. Di Bangli ada 12 SMK yang diarahkan mendukung kepariwisataan Bangli. Ada jurusan-jurusan yang hamper sama, disatukan menjadi besar. Prodi-prodi/jurusan: SMK2 (hotel), SMK4 seni-budaya (nyambut tamu-tamu), SMK Kintamani (makanan perikanan air tawar, mujair, menu makanan), SMK1 Kintamani (pertanian jeruk, umbi-umbian), SMKN3 (panggung menggunakan teknologi, lampu); dan SMK (tentang bangunan). SMK Terintegrasi ini dibangun untuk menciptakan bagaimana pariwisata agar aman dan nyaman. Selain dari para lulusan SMK dan SMU, juga dapat dimanfaatkan lulusan pendidikan ekonomi, lulusan terkait dengan kepariwisataan, lulusan terkait dengan kegunungapian, dan sejenisnya.

Seperti apa perekonomian Bangli? Perlu uluran bantuan DAK (Dana Alokasi Khusus, pusat), baru tahap awal (% bangunan dan % sarpras). Pak Pram pernah menyampaikan proposal SMK2 sebagai infrastruktur pertama. Dalam waktu segera akan dibangun hotel. Dua hari yang lalu, Kepsek telah membuat MoU dengan 3 Hotel Mini/Melati (ukuran minimalis). Mohon bantuan Bapak/Ibu, apa yang kami cita-citakan bisa terealisasi. SMK Kintamani berada di pinggir danau. SMA2 di bibir danau dan bisa membantu suplai ikan (minggu lalu sudah dibantu pempusat).

Beberapa hal lain yanag didiskusikan adalah peran 12 SKPD Pemkab Bangli dalam pembangunan geopark, memperbanyak pembangunan hotel mini/melati yanag dikelola oleh SMK, kenyamanan mengunjungi Kntamani dan daerah lain di Bangli, transportasi yang nyaman ke Bangli/Kintamani dari Denpasar dan daerah sekitarnya, dan partisipasi pihak travel dalam mendorong peningkatan jumlah wisatawan. Suteja menjelasan penguatan peran SMK dan Pemda. Sistem manajemen, ditangani unit produksi SMK (hotel, bangunan, dll.). Perjalanan tamu harus nyaman. Ada SMK yang dilalui jalur Denpasar – Singaraja, pasti lewat SMK. Keuntungan lokasi ini harus dimanfaatkan SMK. Festival Danau Batur harus bersifat local, regional, dan nasional, bahkan internasional. Souvenir geopark harus disediakan, dan lomba anak-anak harus ditumbuhkan. SMK harus diperankan dalam memasarkan hotel mini bekerjasama dengan Pemda. Antara lain, tamu Pemda diprioritaskan dan disediakan kendaraan dinas dari masing-masing SKPD. Akan dibuat café khusus untuk tamu (bukan untuk masyarakat). Lokasi tanah sudah disiapkan, di sebelah kanan sekolah (bangunan sekolah saat ini dimundurkan 55 meter, untuk café). Lahan untuk hotel mini, perpustakaan, dan café mencapai 3000-4000 m2.

DInas Pariwisata Pemkab Bangli sangat mengharapkan agar BPPT ikut membantu mengusulkan berbagai proposal terkait dengan kegiatan pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud), perhotelan dan kepariwisataan (Kemenparekraf), museum dan kegunungapian (Kemen ESDM/Badan Geologi Nasional). Imbul pertanyaan, bagaimana melestarikan budaya unik di salah satu lokasi di Kintamani? Upaya yang dilakukan, antara lain melakaukan pembinaana masyarakat, pendekatan sosial, budaya, dana keagamaan, pelibatan tokoh masyarakat, termasuk program “nyamo anyar” atau pendayagunaan anak putus sekolah. Pemerintah Kabaupaten Bangli khususnya DInas Dikbud saat ini harus melakukan pembinaan terhadap 163 SD, 33 SMP, 8 SMA, dan 12 SMK.

  1. Aneka Produk Kerajinan UMKM

Wayan Gunawan, dinas UMKM, menegaskan, sejak 3 tahun yang lalu sudah melaksanakan pembangunan pasar seni Kintamani Bali, target selesai 2014. Nanti semua kegiatan promosi Bangli dipusatkan di sana. Dari 4 kecamatan di Bangli akan ada ciri khas, kompetensi inti, termasuk inkubator bisnis, teknopreneur, dan disediakan ruang diklat. SDM: semua souvenir produk bambu akan memuat logo geopark. Produk bambu belum final/finishing, yang memanfaatkan masih Pemkab Gianyar. Kegiatan mendukung geopark, pelibatan pengrajin pada festival danau, juga lomba souvenir, dan penggunaan lambang geopark. Pertemuan Bappeda dengan Disperindag, akan meyepakati penggunaan logo Geopark.

Puguh Suharso, staf BPPT, menanyakan sudah adakah litbang mengarah ke bambu? Sosialisasi dan promosi, barangkali lebih efektif ketika ada media (tv komunitas/publik, radio, dll.). Pihak Pemkab Bangli menjelaskan belum ada kegiatan litbang bambu. Bantuan dari pihak BIT BPPT diharapkan mendorong produksi aneka produk bamboo, bekerjasama dengan pihak Kemenpora/Dispora. Juga dalam mendorong pembentukan pengusaha/industri pemula dan pembentukan/pebinaan kewirausahaan (enterpreneurshi) dan teknopereneur. Program laminasi bambu sudah dibantu KemenKUKM.

Saat ini sudah ada peralatan gamelan dari bambu, tetapi promosi dan pemasaran belum intens. Technocamp 2013 akan digalakkan. Klaster bambu ada di Kecamatan Susut, sentra produksi, bukan semata-mata peran Pemda, tetapi didukung partisipasi dan peran serta masyarakat. Kebijakan kepariwisataan Bali, wisata Gianyar (sebagai kawasan), sedangkan wisata Bangli (sebagai obyek wisata). Karena itu harus diupayakan berbagai upaya agar jumlah wisatawan ke Bangli terus meningkat secara signifikan.

  1. Sarana dan Prasarana

Saat ini sudah ada zonasi tanah, perlu pemahaman geopark UNESCO. Lahan di bawah penguasaan/pengelolaan BKSDA (Provinsi Bali). Kaitkan dengan UU. Koordinasi: BKSDA, taman wisata alam, dan geopark. Koordinsi inti Kemen Parekraf, Kemen ESDM, dan Kemen Kehutanan intinya, ditambah Kemen Dikbud, Kemen Kominfo, Kemen Perindag, dan Kemen Dagri. Petani hortikultura di kawasan Gunung Batur masih bersifat tadah hujan. Masyarakaat petani sangat gigih. Banjir bandang akhir 2011,menerpa lingkungan geopark (ada yang meninggal belum ketemu mayatnya). Ada 33 SKPD. Akademi Komunitas Bangli akan dijadikan Pendidikan tinggi (?), secara administrasi sudah diterima, tetapi harus menyediakan lahan minimal 50 are. Pengadaan lahan susah dilakukan.

Bidang Fisik Prasarana, Kirmanjaya: di awal geopark, saya bangga. Maskot geopark bisa dijual. Ini pengakuan internasional (sejenis agropilitan, minapolitan, dan program sejenis). Pemkab hanya dinobatkan bahwa ada geopark, awalnya inisiatif Kemen ESDM, dan kemudian berkembang ke Kemen Parekraf. Akan dibuat logo Geopark dan Pemkab Bangli, misalnya pada kaos, souvenir, dan tugu selamat dating, agar perhatian pusat dan perhatian public meningkat. Di provinsi, seharusnya ada pejabat Dinas PU yang menangani SDA, tetapi di kabupaten belum/tidak ada. Pada kawasan geopark, sudah ada kawasan strategis lingkungan hidup dan sosbud provinsi. Kemarin ditetapkan KSPN (kawasan strategis pariwisata nasional), ada lagi Daerah Kawasan Khusus Provinsi (proyek sudah ada, tetapi kawasan belum ada). Persentase penggunaan lahan yang dibangun fisik untuk Batur Global Geopark sudah diatur, tetapi pelaksanaannya membutuhkan koordinasi antarinstansi. Pertanyaan, Pemkab dapat/menerima apa dari geopark. Pempus harus serius. Wilayah kawasan ini punya kehutanan, BKSDA. BPPT diminta membantu koordinasi di tingkat pusat. Kemenpu sudah berjalan, tetapi hanya menyangkut fisik.

 

3.6 Lingkungan Hidup

BLH, Mangastadi: spirit BGG sejalan dengan visi dan fungsi pelestarian. Belum ada penjabaran yang terintegrasi. BLH kerjasama dengan Provinsi, dan KemenLH, KLHS kawasan ini (sangat rentan terhadap pencemaran). Sejak 2006 galian C ditangani, tidak pernah selesai. Semua penggali masih ilegal. Banyak sisdur/sop dilanggar (penggalian tidak hanya horisontal, tetapi juga vertikal, bahkan sebuah bukit akan hilang). Label kemiskinan, pemanfaatan, kepentingan umum, dan permukiman. Dasar hukum pempus tentang pembangunan Batur Global Geopark harus jelas.

 

 

IV. WORKSHOP KEPARIWISATAAN:

Workshop kepariwisataan tentang geopark dilaksanakan pada 19-20 September 2013 dengan tema “Terwujudnya Geopark Nasional Batur Sebagai Destinasi Wisata Minat Khusus Berkelas Dunia”. Para penyaji adalah pejabat Kemenparekraf, Badan Geologi Nasional, dan pakar geopark dari Universitas Udayana.

 

    1. Arahan Bupati Bangli, I Made Gianyar

Ada 4 (empat) masalah besar di Kawasan Kintamani yang harus segera ditangani, yaitu: (1) Keberadaan Pasar (pasar yang sekarang ada masih tradisional, statusnya berada di dalam kawasan Museum Gunungapi Batur, harus dibangun pasar baru yang lebih maju dan status lahannya jelas). Pasar yang dibangun nanti akan diberi nama Pasar Geopark; (2) Penggalian dan pengangkutan Galian C, harus diusahkan agar kegiatan konservasi jauh lebih besar dari pemanfaatan; (3) Penataan pedagang asongan. Selama ini terkesan cara berdagang pedagang asongan kurang memperhatikan etika pedagang; dan (4) Penataan dan pengaturan bagunan di sebelah Timur jalan (melibatkan peran LWG dan BMD).

Bupati mengemukakan saat ini ada 4 (empat) cirri manusia atau bangsa, yaitu: (1) Banyak bicara dan banyak bekerja (contohnya Amerika Serikat); (2) Sedikit bicaa dan banyak bekerja (contohnya Jepang); (3) Banyak bicara dan sedikit kerja (harus dicari contohnya); dan (4) Banyak bicara dan pelaksanaan kerja berbeda (harus dicari contohnya). Harapan Bupati, manusia, masyarakat, dan bangsa Indonesia tidak masuk ke dalam kategori angka 3 dan angka 4 dan berusaha agar masuk ke dalam kelompok angka 1 dan/atau angka 2.

 

    1. Geoparks: Utilizing Conservation-based Geoheritages for sistainable Improvement of

People’s Welfare

Makalah dari Badan Geologi Nasional (Bandung), Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral disampaikan dalam ahasa Inggris, karena makalah ini juga dibuat untuk keperluan pertemuan dengan UNESCO dalam rangka pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program Geopark Gunung Batur (Batur Global Geopark, BGG).

 

  1. Background

Indonesian Archipelago: more than 17,000 islands with 1.9 million km2 land (25%) onshore and 5.8 million km2 marine (75%) offshore. Geological resources potential: oil and gas, batubara, geothermal, copper, and gold. Indonesian geological phenomena potential (2011): geodiversity (170 areas) and geoheritage (33 areas) towards sustainable resources.

 

b. Natural resurces: Geodiversity, Biodiversity, and Cultural diversity

Mindset on the utilization of conservation-based geoheritages for sustainable development. Exploitation vs Conservation (Exploitative vs Conservative). Actually both are important for natonal development needs balance political will. Expecting gradual mindset transformation from exploitative to conservative and to create sustainable development. Three natural components of Natural (Earth) Diversity: (1) Geodiversity (formed since Earth formation, 4.6 billion years ago); (2) Biodiversity (formed around 2 billion years ago); and (3) Human and Cultural diversity (formed since 2 million years ago). Geodiversity from macro to micro: landscape, landform, rock outcrops, rock groups, rock typs, soils, minerals, crystals, and micro fossils.

 

c. Geoheritage and Geopark

Owing to continuous million years of dynamic and complex geological processes in Indonesia various important nd valuable geodiversity were formed: Geodiversity to Geoheritage (through interpretation, characterization, and selection). Mostly gaining areal and international significant or outstanding universal value, OUV). Positive Geodiversity (georesources, land, and environment) and Negative Geodiversity (geological hazards). In Indonesia, most geodiversity and geoheritage are under an enormous threat of extinction and not being optimally utilized for the benefit of people’s welfare using sustainable geotourism and other green tourism activities.

Problems on Geodiersity and Geoheritages Conservation in Indonesia:

  1. Weak political will leads to weak and uncertain law enforcement of regulations.

  2. Poverty leads to “breaking up the rules of natural conservation program.”

  3. Autonomy of local government leads to the use of excessive power of politics on natural resources management.

  4. Extractive mindset of many high rank government officials “quick yielding exploitative mindset”.

  5. Highly demand of industrial minerals and construction materials due to high economic growth.

  6. Sustainable utilization of non renewable geodiversity and geoheritage takes time to be implemented successfully.

Indonesia’s Law and Regulation on Geoconservation:

      1. Government Law No. 26/2007: Spatial Planning.

      2. Government Regulation No. 26/2008: National Area Spatial Planning, article 52 verse (5), Article 53 and Articles 60-62 concerning “geological protected area”.

      3. Geological Protected Area, Article 52 Verse (5), includes: geological protected sites, vulnerable area of geohazards, and peotected area for groundwater.

      4. Geological Protected Sites, Article 53 Verse (1), includes: sites with unique and valuable rock and fosil, sites with unique and valuable geomorphology, and site with unique and valuable geological processes.

New approach of UNESCO’s Geopark concept: Offers a sustainable utilization of geodiversity, geoheritage, and other bio-cultural diversities for the benefit of people in and around the geopark. Geopark concept: sustainable utilization of natural resources (Geo-, Bio-, and Cultural Diversity).

Geopark: a concept promoted by UNESCO (2000) and successfully implemented in many countries Euwope, Asia such as China, Malaysia, Indonesia?), and Latin America (Brazil). Principally, geopark is a concept of areal development with significance regional impact for conservation, education, and improvement of people’s economic welfare. At least possesses one area with world-class international significance of geodiversity – geoheritage which should be protected using sustainable conservation-based management of various green tourism activities. See www.worldgeopark.org

Urgency for Conservation of Geodiversity and Geoheritage:

  1. Conservation of an outstanding geological phenomena, so called geodiversity and geoheritage, is an important stage toward its sustainable utilization using a planned programme to protect their existence.

  2. Three reasons for promoting conservation of geodiversity and geoheritage:

  1. Geodiversity and Geoheritage are non renewable resources. One it disappears, it will lost forever.

  2. Geodiversty and Geoheritage possesses valuable knowledge useful for human being and its supporting environment.

  3. Geodiversity and Geoheritage are sensitive to disturbance and very vulnerable from destructive anthropogenic activities.

  1. Resources on Geopark Development (Applicable in Indonesia): (1) Geodiversity (geoheritage), Biodiversity (bioherotage), and Cultural diversity (cultural heritage); and (2) Government policy and regulation management (tourism activities, hazards risk Ass. – DRM); Infrastructures supporting facilities; and capacity building of local people, community development, and people welfare.

  2. World’s Green Tourism Concept: Ecotourism (1980’s): Bio- and Cultural Diversity (Ties Standard); Geotourism (1990’s): Geodiversity (Special interests); and Geopark (2000): Geo-, Bio-, and Cultural-Diversity (Mixed and Integrative).

  3. Geopark: (1) Protection (geological heritage and non-geological heritage); (2) Education (Earth Science and Education, and Environment Education); and Sustainable Development (Geotourism and Other Tourism Opportunity); through geoconservation, integrated geoconservation, and sustainable use.

  4. Geopark: Instrument for Natural Heritage Conservation (geological conservation, biodiversity conservation, cultural heritage conservation, landscape of scenic beauty (multiple geritage value), geoforest park, geoarea, geotrack, integrated nature conservation, and integrated heritage conservation):

  1. Geological and Landscape Resources: parks, monuments, protected sites, and scenic beauty.

  2. Biological Resources: parks, reserves, protected sites, and recreational.

  3. Cultural and Community Resources: museum, archeological sites, and historical sites).

  4. Urbanization and Econmic Activities: basic infrastructure.

 

d. GGN Batur (BGG)

GGN UNESCO BATUR GEOPARK, accepted as Global Geopark Network of UNESCO, EGG Conference, Arouca, Portugal, 20 September 2012. Geopark Batur is the first GGN UNESCO in Indonesia, appreciating the geoheritage, prospering the people. Formation of 2 Calderas in the northern part of Bali Island. GGN Batur I situated in Kintamani District.

Geodiversity and Geoheritage of Batur Global Geopark: based on Geologicl Agency Act No. 37.K/73/BGL/2012, there are 63 protected geodiversities related to volcanic activities in GGN Batur, includes: Geosite (37: Batur Caldera, Batur Lake, Gunungkawi Ignimbrite, Gunungkawi Temple, Ubud Ignimbrite, Ubud Pumice Flow), Geoevidence (11: densely welded ignimbrite, surge deposite, and surge structure), and Geofeature (15: lava, in eastern area, geofeatures of rocks and its volcanic processes on surface, Bocky lavas, Lava flow, Tumuli, Lava stream, Pillow lava, and High viscocity lava stream).

Conservation strategy of Batur Geosites:

  1. Determining geosites of Batur Geopark into geological protected area using Government Regulation No. 26/2008 of National Spatial Planning.

  2. The protected area is delineated and included into Local Government spatial planning of Kintamani District Bangli Regency.

  3. Geosites in Batur Geopark are promoted and protected using built on site-Sign Board.

  4. Creating geotracking facilities interconnected geosites and maps.

  5. Regular monitoring geosites using guardian (ranger) recruited through community empowerment of community development program.

  6. Planning to create spiritual marks (Pelinggih/Prada) alongside sign board of geosites.

Geopark Management must be formed in bottom up processes, especially by empowering local people. As an example, people living around Meraning – Jambi Geopark closely involved on the process of bottom up management. There are many processes of local people empowerment. Five pillars to form shared value are:

  1. Ecosystem sustainability (sonservation on existing ecosystem as main supporting agent for geopark development).

  2. Cultural heritage (government regulation on conservation management to balance tourism and its sociocultural impact).

  3. Tourism and socio-economic development (sustainable tourism development supported by associated stakeholders, giving priority to young generation to be involves within the tourism industry).

  4. Physical Infrastructures (infrastructure building becomes responsibility of all stakeholders).

  5. Community education (building up information center as education facility for community and incoming tourist concerning geodiversity to improve awareness and people education).

[Modified from Sharina Abdul Halim, et.al., 2010].

Status as GGN UNESCO Batur Geopark will be assessed by UNESCO’s Team on end of 2014 and end of 2016.

Kemenparekraf, Kemen ESDM, Pemerintah Kabupaten Bangli, dan Instansi Pemerintah Pusat/Daerah lainnya harus cepat melaksanakana program pembangunan geopark untuk menghindari penilaian (pemantauan dan evaluasi) yang kurang baik pada 2014 dan 2016. Program Pengembangan Batur Geopark meliputi: (1) Fungsi Pemda; (2) Kelembagaan pengelola Geopark Batur; (3) Geosite: a) Fisik dan Informasi Geosite; b) Pengamanan Geosite; c) Museum Gunungapi Batur; dan d) Pembangunan Museum Budaya dan Galeri Seni; (4) Sarana dan Prasarana (fasilitas outdoor pendukung geopark, miniatur GGN Batur, hotel, jalur trecking, pagar geosite, pelabuhan, restoran, sanitasi, dan souvenir); (5) Pemberdayaan Masyarakat (masyarakat sebagai pemeran utama, pemberdayaan siswa sekolah, local guide, operator wisata); (6) Pengembangan Ekonomi Lokal (motivasi bisnis home industry); dan (7) Promosi dan Pemasaran (jejaring promosi dan pemasaran tingkat dunia).

 

e. Closing

What happened when geopark management fail to comply with UNESCO’s criteria on GGN? First inspection on the first 2 years yellow card: strong warning; and second inspection within 4 years red card: GGN Batur will be disqualified as GGN UNESCO. The result will be depend on our effort, especially local authority of Bangli Regency. Let’s do something for our dignity as a great nation. Praying is good, but doing something real is the key to avoid disqualification.

 

Source: Ministry of Energy and Mineral Resources. www.esdm.go.id Geological Agency. www.bgl.esdm.go.id

 

4.3 Batur Global Geopark: Past, Present, and Future

Pakar Udayana yang menjadi Ketua Tim Ahli BGG, Dr.Eng. I. Wayan Kastawan, ST, M.A. memaparkan BGG masa lalu, saat ini, dan masa yang akan datang.

 

PAST

  1. Wong desa angertanin gumin Ida Batara – masyarakat desa bekerja dan mengelola tanah, tetapi para dewa-lah pemiliknya (Gredgor Krause, Bali, Folkwang-Verla, Hagen, 1920; diterjemahkan dalam Bali 1912 oleh W.H. Mabbett, January Books, Singapore, 1988, halaman 15-19).

  2. Gunung Batur meletus dahsyat pada 1917 diikuti beberapa letusan kecil pada tahun-tahun berikutnya. Tak heran, pemandangan Gunung Batur kini sudah banyak berubah – jauh berbeda dari apa yang dilihat Jacobs sewaktu kunjungan pertamanaya. Meski berbahaya, penduduk Bali tetap memilih bertahan dan hidup di kawasan kaldera yang menyuguhkan sejumlah pemandangan terindah di Bali (Julius Jacobs, 1983; Einigen Tijd onder de Baliers (some time amongst the Blinese), Batavia: Kolff, halaman 15-19 dan 30-31).

  3. Ketika yang lain kembali ke mobil, saya melipir ke luar jalan, mengarah ke hutan kecil …. Saya memanjat sebuah pohon kukuh berdahan besar, berat serta diselimuti pakis dan anggrek…. Terdapat 30 anggrek pada sebuah dahan bengkok …. Vanda Limbata, kata saya dengan bangga. “Coelogyne cinnamonnae” kuharap, dan “Dendrobium crumenatum”….Naiklah bersama seluruh sayuranmu itu atau kita akan melewatkan makan siang di bungalow asrama K.P.M. jika tidak segera berangkat (Charles Bennet, 1942, On the Wallaby: Quest and Adventure in Many Lands, Melbourne: Roberts and Mullens, halaman 182-187).

PRESENT

  1. Kaldera Batur: tampak Barat (Penelokan) dan tampak Utara (Pinggan). Kaldera berukuran 13,8 x 10 km2 dan merupakan salah satu kaldera yang terbesar dan terindah di dunia (Van Bemmelen, 1949).

  2. Kekayaan alam: Geological Heritage/Pusaka Geologi (batu-batuan dan danau), Cultural Heritage (seni-budaya Bali dan rumah tradisional), Biodiversities (buah-buahan kopi dan jeruk ikan, dan anjing serta binatang lainnya), Local Community Empowerment (pemberdayaan komunitas lokal, gotong royong, kebersamaan, pertunjukan, pembuatan kopi luwak, pemeliharaan ikan di danau, dan rumah adat), Geotourism (pariwisata alam dan kebumian, sosialisasi, pendakian gunung, dan cross country), Development Evolution (perubahan lambat tetapi pasti, budaya pertanian, souvenir, restoran sederhana, tempat parkir, dan jalan lingkungan).

  3. Geopark atau Taman Bumi memuliakan bumi dan menyejahterakan manusia. Taman Bumi adalah pola pengembangana kawasan secara berkelanjutan yang memadukan secara serasi tiga keragaman, yaitu geologi, hayati, dan budaya. Tujuan pengelolaan adalah membangun dan mengembangkan ekonomi masyarakat setempat dengan berasaskan perlindungan atas ketiga keragaman geologi, hayati, dan budaya yang terdapat dalam suatu kawasan geopark.

  4. Geopark tidak hanya sebuah “merek/BRAND” untuk mempromosikan wisata alam (khususnya geowisata) dari suatu daerah. Geopark sebagai alat holistik untuk pembangunan regional berkelanjutan dan meningkatkan kegiatan sosial ekonomi masyarakat setempat.

  5. Perjalanan BATUR menjadi Taman Bumi Dunia / Batur Global Geopark:

2010 Penyusunan Dossier UNESCO

Juli 2010 SK Penetapan Geopark Nasional, Juli 2010, oleh Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Budpar.

Febr. 2011 Pengiriman dossier ke UNESCO.

Juni 2011 Penilaian oleh Assesor.

Okt. 2011 Penangguhan penetapan Geopark sebagai anggota GGN (Rekomendasi Nomor SCIEESIGEGEOPARKS/GGN 2011/008893.

Mart 2012 Koordinasi Dirjen PDP dengan UNESCO Perihal Rencana Pengusulan Kembali Geopark Batur.

Apr 2012 SK Penentuan CAG Kaldera Batur tanggal 2 April 2012, Nomor 37.KJ73/BGU/2012.

Mei 2012 Pembahasan jawaban atas rekomendasi UNESCO tentang Geopark Batur (Pemkab Bangli, Kemen Parekraf, dan Kemen ESDM).

Juli 2012 Kunjungan Advisory Mission UNESCO ke Kawasan Geopark Batur.

Agustus 2012 Pengiriman Klarifikasi hasil Advisory.

Sept.2012 20 September 2012: Penetapan Kaldera Batur – Bali bergabung dalam GGN-UNESCO di Portugal.

Sept.2012 dst. Batur Global Geopark memuliakan bumi dan menyejahterakan masyarakat.

  1. GLOBAL NETWORK of NATIONAL GEOPARKS: Certificate of Membership issued to Batur Global Geopark, Indonesia.

In recognition as Member of the Global Network of National Geoparks, with the support of UNESCO, the Geopark approach promotes a truly interdisciplinary network of international approach for studying the Earth System while sustaining local communities. This innovative initiative introduces a unique international framework linking socio-economic development and the conservation of the natural environment and hence contirubutes a new and vital approach to conservation issues. Paris 20 September 2012.

  1. Pengukuhan Batur Global Geopark, 17 November 2012 di Lapangan Kapten Muditha, Bangli.

  2. Latar Belakang: Kelemahan manajemen destinasi pariwisata nasional diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya (1) implementasi program/rencana yang tidak konsisten; dan (2) program/rencana pengembangan yang tidak dapat mengikuti perkembangan pembangunan terkini.

  3. Master Plan Batur Global Geopark dibuat pada 2011. Geotourism Challenge, Power of Place, Sustaining the Future of Destinations:

    1. Geotourism: Landscape appreciation, viewing of scenic areas, geoconservation, visiting geosites, and learning about geology and landscape.

    2. Ecotourism: Geological centres on the distribution of plants and animals. Appreciation of wildlife, passive activities walking, hiking, snorkeling, and learning about nature.

    3. Adventure Tourism: Geology and Scenery as the backdrop to mountaineering rock climbing and some extreme sporting activities. Between geotourism and adventure tourism: risk of damage to geosite, potential user conflict, limited scope for learning. Between Adventure Tourism abd Ecotourism: Unlikely to be eco-friendly, very limited scope for learning.

    4. Cultural Tourism: Use of geological materials in society, rock art and cultural significance of rocks and landscape. Between cultural tourism and adventure tourism: cultural sensitivity unlikely.

    5. Geotourismm and Geoparks, a tool for conservation and development:

  1. Tour:

Attractions: macro and micro scales.

Accommodations: geolodges and georesorts.

Tours: organized guide tours.

Activities: site activities visitor centers and virtual tour.

Instruments: guided and self guide trains, and leaflets/brochures/pamphlets.

Planning and Management: geoconservation, site design for tourism, and visitor

management.

  1. Process:

Mountain ranges, volcanos, lava flows, landslides, waterfalls, and river valleys.

  1. Form:

Volcanic landform, sedimentary environment, rock outcrops, regolith sections, and minerals.

    1. Geosite Information: Batur Caldera Geopark, Lava Gunung Api Batur, and Information Center.

    2. Etalase Geopark: museum, diorama, and photos, cultures, orange fruits, and luwak coffee.

 

FUTURE

  1. We need: Team, Idea, Brainstorming, Meeting, Solution, and Work.

  2. Keanggotaan GGN hanya berlaku untuk 4 tahun. Batur Global Geopark akan mulai direvalidasi di awal tahun 2016, sehingga diperlukan komitmen serius dan struktur manajemen yang baik dalam pengembangannya.

  3. Diperlukan integrasi Program Geopark dalam pembangunan Kabupaten Bangli.

  4. Batur Global Geopark, menuju “terwujudnya masyarakat Bangli yang GITA SANTI (gigih, ikhlas, takwa, aspiratif, sejahtera, aman, nyaman, tertib, dan indah) berlandaskan Tri Hita Karana.”

  5. Arah Kebijakan Pembangunan Kabupaten Bangli:

  1. Arah kebijakan pembangunan Kabupaten Bangli diarahkan kepada terwujudnya masyarakat Bangli yang cerdas sehat, dan sejahtera.

  2. Kebijakan pemerintah Kabupaten Bangli adalah lebih banyak memberikan “kail” daripada “ikan”, dan selanjutnya diutamakan lebih banyak lagi memberikan “cara membuat kail”.

  3. Fokus kebijakan pembangunan Kabupaten Bangli lima tahun mendatang diutamakan pada empat bidang, yaitu: pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan lingkungan hidup, yang didukung oleh bidang-bidang lain sesuai dengan potensi wilayah Kabupaten Bangli.

  1. Pembangunan Terintegrasi:

  1. Integrasi: penggabungan dan pengkoordinasian bagian-bagian yang semula terpisah menjadi satu kesatuan.

  2. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja, jumlah dan mutu.

  3. Integrasi dilakukan meliputi integrasi fisik dan integrasi sistemik.

  1. Skema Integrasi Pembangunan Kabupaten Bangli:

  1. GITA SANTI: “terwujudnya masyarakat Bangli yang GITA SANTI (gigih, ikhlas, takwa, aspiratif, sejahtera, aman, nyaman, tertib, dan indah) berlandaskan Tri Hita Karana.”

  2. Starting Point: Batur Global Geopark, dibangun Sistem Pembangunan Daerah Reguler sebagai Induk Integrasi, dan DMO Wingkong Ranu.

  3. Keberlanjutan: perencanaan dan penganggaran , pelaksanaan, serta pengawasan dan pertanggungjawaban (akuntabiitas).

  4. Optimalisasi manajemen pembangunan, menuju pada “peningkatan kesejahteraan masyarakat”.

  1. Integrasi Program Pembangunan:

  1. Ranah pengintegrasian: Pengintegrasian horisontal, yaitu penyatupaduan proses seluruh perencanaan pembangunan ke dalam sistem perencanaan pembangunan regular (musrenbang): (1) Politis (DPRD); (2) Teknokratis (SKPD); dan (3) Partisipatif (Masyarakat).

b. Ranah pengintegrasian: Pengintegrasian vertikal, yaitu penyatupaduan proses seluruh perencanaan pembangunan ke dalam sistem perencanaan pembangunan partisipatif: (1) Pemerintah Kabupaten Bangli (SKPD); (2) Batur Global Geopark (BGG); dan (3) Destination Management Organization (DMO).

  1. Future of Batur Global Geopark: taman aman, nyaman, penghijauan, jalan lingkungan, lintasan, siting area, view danau, jalan kayu, jembatan kayu, pepohonan rindang, view ke kaldera dan gunung Batur serta danau, tempat berteduh, pemeliharaan ikan, tempat peristirahatan selama kunjungan, area foto, area terjun payung dan olah raga terbang layang, map guide geotourism, alternatif jembatan layang (model jembatan Barelang atau jembatan Suramadu) skala kecil.

  2. Diplomasi dan Asistensi untuk Batur Global Geopark: Tiga isu penting yang didiskusikan dalam APGN 2013 Coordination Committee (APGN Coordination Committee Meeting Chairman, 8 September 2013, KAL Hotel, Jeju – Republic of Korea): (a) Future direction to sustain Asia Pacific Geopark members within APGN; (b) Encouraging sister-ship (bilateral and multilateral) networking between APGN members; dan (c) Developing mechanism to promote members of APGN.

  3. For the Innovation of the Thirds Asia-Pacific Geopark Meeting: Tawaran Sister-ship Geopark dari Jingpo Global Geopark, Republic of China untuk Batur Global Geopark.

  4. Batur Global Geopark (BGG), a member of GGN UNESCO: Global Geoparks Network, Batur Caldera Geopark, membutuhkan koordinasi terpadu Kementerian ESDM, Kementerian Parerkraf, Pemprov Bali, Pemkab Bangli, and World Heritage – Patrimunio Mundial – Patrimoine Mondial. Batur Geopark Bangli Bali, www.baturglobalgeopark.com Sukma (Terimakasih).

 

4.4 MEMASARKAN BATUR GLOBAL GEOPARK SEBAGAI DAYA TARIK WISATA, oleh

Ketut Ardana, SH, Ketua DPD ASITA Bali

 

        1. Spintas Batur Global Geopark

  1. Definisi Geopark:

      1. Geopark (taman bumi) merupakan seuah kawasan atau situs warisan geologi (geological heritage) yang mempunyai nilai ekologi dan warisan budaya (cultural heritage) dan berfungsi sebagai daerah konservasi, edukasi, dan sustainable development.

      2. Penetapan Gunung Batur sebagai geopark dunia (Global Geopark) telah dilaksanakan oleh Global Geoparks Network Bureau. Keputusan tersebut merupakan hasil dari pertemuan “The 11th European Geoparks Conference” yang digelar di Arouca, Portugal, pada 19-21 September 2012.

  1. Peran Biro Perjalanan Wisata (BPW) dalam Kepariwisataan:

  1. UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Penjelasan Pasal 14 berbunyi:

Yang dimaksud dengan “usaha jasa perjalanan wisata” adalah usaha biro perjalanan wisata dan usaha agen perjalanan wisata. Usaha biro perjalanan wisata meliputi usaha penyediaan jasa perencanaan perjalanan dan/atau jasa pelayanan dan penyelenggaraan pariwisata, termasuk penyelenggaraan perjalanan ibadah.

  1. Usaha agen perjalanan wisata meliputi usaha jasa pemesanan sarana, seperti pemesanan tiket dan pemesanan akomodasi serta pengurusan dokumen perjalanan.

  2. Perda Nomor 1 Tahun 2010 tentang Usaha Jasa Perjalanan Wisata (UJPW). Bab III, Pasal 6 berbunyi:

Kegiatan Biro Perjalanan Wisata dan Cabang Biro Perjalanan Wisata mencakup:

  1. Perencanaan dan pengemasan perjalanan wisata dalam bentuk paket wisata;

  2. Penyelenggaraan Paket Wisata Nasional dan Internasional;

  3. Penyelenggaraan perjalanan ibadah agama dan tirta yatra;

  4. Penyelenggaraan jasa pelayanan wisata dalam rangka mendukung kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition);

  5. Memberikan layanan angkutan/transportasi wisata;

  6. Penjualan tiket angkutan darat, laut, dan udara;

  7. Penyediaan layanan pramuwisata/pemandu wisata yang berhubungan dengan paket wisata;

  8. Pemesanan akomodasi, restoran, dan tempat konvensi, atraksi wisata, dan kegiatan rekreasi;

  9. Pengurusan dokumen perjalanan; dan

  10. Pemesanan tiket pertunjukan seni dan budaya serta kunjungan ke daya tarik wisata.”

  1. Tampilan “Direct Foreign Tourist Arrivals to Bali by Market Country”, in January – June 2013.

  2. Peran ASITA dalam memasarkan Objek Wisata Geopark Batur:

ASITA sebagai lokomotif pariwisata aktif dalam memasarkan berbagai potensi pariwisata dengan mengikuti beberapa event berskala nasional dan internasional. Contoh:

  1. Pasar Wisata Nusantara, MTF Surabaya, JTX Bandung, BTM Solo, TIME, dll.

  2. Matta Fair, ITB Asia, ITB Berlin, Natas Singapore, WTM London, JATA Jepang, Otdhyk Leisure Moscow, ITM China, dll.

  3. Roadshow and Sales Mission dengan melaksanakan Table Top.

  4. Meng-host Family Trip dan travel writers dari Luar Negeri.

  1. Dokumentasi Event berbagai kegiatan kepariwisataan.

 

B. Harapan ASITA terhadap Batur Global Geopark

Memiliki unsur Sapta Pesona yang merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah di Negara kita, dalam hal ini Batur Global Geopark:

  1. Aman: apakah bisa menjamin keselamatan jiwa dan fisik, termasuk milik (barang) wisatawan?

  2. Tertib: kondisi ini tercermin dari suasana yang teratur, rapi, dan lancar serta menunjukkan disiplin yang tinggi dalam semua segi kehidupan masyarakat. Apakah masyarakat di sekitarnya sudah mencerminkan hal tersebut?

  3. Bersih: merupakan suatu keadaan/kondisi lingkungan yang menampilkan suasana bebas dari sampah, limbah, penyakit dan pencemaran. Wisatawan akan merasa betah dan nyaman bila berada di tempat-tempat yang bersih dan sehat. Bagaimana dengan Batur Global Geopark?

  4. Sejuk: diimplementasikan dengan suasana lingkungan yang serba hijau, segar, rapi memberi suasana atau keadaan sejuk, nyaman, dan tenteram.

  5. Indah: dapat dilihat dari berbagai segi, seperti dari segi tata warna, tata letak, tata ruang bentuk ataupun gaya dan gerak yang serasi dan selaras, sehingga memberi kesan yang enak dan cantik untuk dilihat.

  6. Ramah Tamah: yang dimaksud adalah selalu menghormati tamu/wisatawan dan dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sikap ramah tamah ini merupakan satu daya tarik bagi wisatawan, oleh karena itu harus kita pelihara terus.

  7. Kenangan: tentunya kita semua menginginkan agar ingatan dan perasaan wisatawan dari pengalaman berpariwisata di Gunung Batur Geopark ini dengan sendirinya adalah yang indah dan menyenangkan.

 

V. MUSEUM GUNUNGAPI BATUR (Batur Volcano Museum)

 

Indonesia telah memiliki geopark pertama, yaitu Batur Global Geopark yang ditetapkan oleh Global Geopark Network (GGN) – UNESCO pada 20 September 2012 di Portugal. Museum Gunungapi Batur (MGB) dapat berfungsi sebagai jendela informasi gunungapi di Indonesia sesuai dengan fungsinya, yaitu tempat menyimpan, meneliti, dan memamerkan berbagai hal terkait dengan kegunungapian, diantaranya menjelaskan mengenai pembentukan gunungapi, material hasil letusan gunungapi, tipe letusan dan bentuk gunungapi, sebaran gunungapi, sejarah, dan manfaat gunungapi di Indonesia.

Ada 4 (empat) lantai di MGB, yaitu:

  1. Lantai I: Hal-hal yang terkait dengan MGB meliputi pengertian museum, sejarah MGB, pengertian gunungapi seara umum, alur kunjungan, areal lobby Lantai I (panel pembentukan gunungapi, panel fenomena gunungapi, panel tipe erupsi, panel bentuk gunungapi, slide show Gunung Batur dan Gunung Agung, sebaran gunungapi dan jalur gempa di Indonesia, panel foto grafis gunungapi di Indonesia, diorama Gunungapi Batur, Panel foto grafis panoram gunung dan Danau Batur, panel foto Gunungapi Batur tempo dulu dan foto dampak letusan Gunung Agung, panel evolusi Kaldera Batur, komuter game evolusi Kaldera Batur dan Maker, panel sejarah letusan Gunungapi Batur, peta geologi Kaldera Batur, peta kawasan rawan bencana dan maket geologi, panel volcano monitoring, panel sistem regional panel peringatan dini, dan panel pemanfaatan material letusan gunungapi).

  2. Lantai II (panel Batur Global Geopark, ruang audio visual/bioskop, ruang rapat/conference room, dan panel Batur Global Geopark).

  3. Lantai III (tempat petugas vulkanologi memantau aktivitas Gunung Batur dan cara kerja alat pencatat gempa, seismograph).

  4. Lantai IV (tempat untuk menikmati pemandangan gunung dan Danau Batur, karena tempatnya tinggi sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan dari dalam ruangan dengan menggunakan teropong).

 

VI. ELEMEN-ELEMEN GEOPARK DAN TEKNOPOLITAN

 

Perlu dibuat Tabel keteraitan Geopark dan Teknopolitan mengacu pada Master Plan masing-masing (Master Plan Teknopolitan dan Master Plan Geopark) seperti dapat dilihat pada table berikut:

 

1

Geopark

Teknopolitan

A

Khusus dan Letak

  1. Batas wilayah yang jelas

  2. Pariwisata

  3. Ekonomi lokal

  4. Seni-budaya

  5. Warisan geologi

  6. Perlindungan

  7. Pendidikan

  8. Pembangunn berkelanjutn (sustainable development)

 

x

x

x

x

x

x

x

x

B

Manajemen dan Pelibatan Pihak Lokal

  1. Ciri-ciri geologi dan non geologi

  2. Bottom-up

  3. Pelibatan pemerintah lokal

  4. Komunitas local (locl community) dan Pembangunan Komunitas (community development)

  5. Pelibatan Swasta

  6. Pelibatan lembaga pendidikan dan riset/litbang

  7. Branding yang kuat (konservasi dan pariwisata)

  8. Kerjasama dengan komunitas lokal dalam ekonomi dan pariwisata

 

x

x

x

x

 

 

x

x

 

x

 

x

C

Pengembangan Ekonomi

  1. Penciptaan masyarakat lokal yang inovatif

  2. Pengembangan UMKM (kerajinan tangan, home industry)

  3. Lembaga pengembangan SDM masyarakat lokal

  4. Penyediaan lapangan kerja

  5. Pendapatan dari geotourism dan geoproduct

  6. Pengembangan industry pariwisata

 

x

x

 

x

 

x

 

 

x

D

Pendidikan

  1. Pendidikan dan pelatihan geologi, pariwisata, dan lingkungan hidup

  2. Penelitian dan pengembangan/riset geologi, pariwisata, seni-budaya, dan UMKM

  3. Pelestarian budaya

  4. Pemberdayaan masyarakat

  5. Kemitraan lokal

 

x

 

x

 

 

x

x

x

E

Perlindungan dan Konservasi

  1. Peraturan perundang-undangan

  2. Regulasi dan Legalitas

  3. Perlindungan kekayaan alam kebumian

  4. Konservasi geologi

  5. Pelestarian nilai-nilai sosial-budaya

 

x

x

x

x

x

 

 

VII. MASTER PLAN GEOPARK

 

PujisyukurkamipanjatkankehadiratTuhanYangMahaKuasakarenaberkatrahmat- Nyalahmakapekerjaaninidapatdiselesaikandenganbaik. LaporanExecutive Summaryini juga merupakan laporan pelaksanaan pekerjaan penyusunan MasterplanKawasandiDalamKalderaGeoparkBatur,yangdibiayaidaridana APBN pada TahunAnggaran2011serta pelaksanaannyadibawahkoordinasiKementerian PariwisatadanEkonomiKreatif,RepublikIndonesia.

LaporanExecutiveSummaryterdiridaribeberapa Bab.DiawalidariBabIyang memaparkantentangLatarBelakang; danBab-Bab selanjutnya mengenaiKajian Kebijakan;RonaAwalKawasan; AnalisisPotensidanPermasalahan;Kebutuhan Pengembangan;Visi, Misi,Strategi,danKonsepPengembangan;Masterplan,Rencana Rinci,Spot,Etalase;sertadiakhiriBabVIII tentangRencanaAksi,Pengelolaandan Pembiayaan.

DemikianLaporanExecutiveSummaryinidisampaikan,dengan ucapanterimakasih padasemuapihak yang telahmembantu.

 

 

VIII. PENUTUP

Batur Global Geopark sudah disetujui UNESCOsebagai salah satu geopark di dunia. Tugas Pemerintah Indonesia adalah menyiapkan bahan-bahan laporan untuk memenuhi persyaratan evaluasi yang dilakukan UNESCO. Dalam kegiatan Geopark, terdapat beberapa instansi pemerintah yang terlibat, antara lain Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Destnasi Wisata, Badan Geologi Nasional, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah Provinsi Bali, BKSDA Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten Bangli. BPPT akan ikut terlibat dalam program geopark, dikaitkan dengan konsep teknopolitan.

Informasi tentang geopark yang diperoleh dari pertemuan dengan pejabat pemda, workshop tentang kepariwisataan/geopark, informasi tentang museum, master plan teknopolitan, dan master plan geopark, dijadikan referensi dalam pembuatan laporan tersendiri mengenai jaringan inovasi, manajemen pengetahuan, dan geopark (BGG) dan peluang pembangunan teknopolitan berbasis pariwisata.

Untuk mewujudkan koordinasi yang makin lancar dan penanganan program BGG lebih cepat dan lancar, penulis mengusulkan agar diusulkan pembuatan Inpres tentang Percepatan Pembangunan BGG dan Kedeputian PKT berinisiatif membangun koordinasi di tingkat Pusat (BPPT/Kedeputian PKT, Kemenparekraf/Ditjen Destinasi Wisata, dan Badan Geologi Nasional/Direktorat Museum) serta Instansi terkait.

 

DAFTAR PUSTAKA

    1. Badan Geologi Nasional, Bandung, “Geoparks: Utilizing Conservation-based Geoheritages for sistaainable Imporvement of People’s Welfare”, Workshop Kepariwisataan tentang Geopark, Bangli, Kintamani, 19 September 2013.

    2. Brosur tentang “Museum Gunungapi Batur (BaturVolcano Museum).

    3. I Made Gianyar, Bupati Bangli, “Arahan pada Workshop Kepariwisataan tentang Geopark”, Bangli, Kintamani, 19 September 2013.

    4. I. Wayan Kastawan, Dr.Eng., ST, M.A., “Batur Global Geopark: Past, Present, and Future”, Workshop Kepariwisataan tentang Geopark, Bangli, Kintamani, 19 September 2013.

    5. Ketut Ardana, SH, Ketua DPD ASITA Bali, “Memasarkan Batur Global Geopark sebagai Daya Tark Wisata”, Workshop Kepariwisataan tentang Geopark, Bangli, Kintamani, 19 September 2013.

    6. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Master Plan Kawasan di Dalam Kaldera Geopark Batur (Master Plan Batur Inner Caldera Geopark, Bali-Indonesia)”, Jakarta, 2011.

    7. Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi, Kedeputian Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, “Master Plan Pembangunan Teknopolitan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan”, Jakarta, 2012.

 

Lampiran 1. KEMAJUAN KKI GEOPARK GUNUNG BATUR DI BANGLI (Sepember 2013)

KERANGKA KERJA INOVASI (KKI)

KEMAJUAN

  1. Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi dan bisnis (KKI1)

 

Geopark Gunung Batur: membangun dan mengembangkan kerangka umum inovasi pembangunan kebumian dan kepariwisataan.

Geopark Gunung Batur: pengembangan usaha kecil dan menengah (restoran, souvenir, transportasi, kepariwisataan, kerajinan batu-batuan, dan pengerukan pasir dan batu).

Geopark Gunung Batur: sebagai salah satu bentuk pengembangan teknopolitan.

  1. Memperkuat kelembagaan dan daya dukung iptek/litbangyasa dan mengembangkan kemampuan absorpsi oleh industri,khususnya UMKM (KKI2)

 

Geopark Gunung Batur: kelembagaan masih bersifat parsial (Badan Geologi Nasional, Ditjen Destinasi Wisata, Pemprov Bali, dan Pemkab Bangli).

Geopark Gunung Batur Bangli: promosi produk-produk UMKM (souvenir, kerajinan bambu, restoran, jeruk, dan kopi luwak).

  1. Menumbuhkembangkan kolaborasi bagi inovasi dan meningkatkan difusi inovasi, praktik baik/terbaik dan/atau hasil Litbangyasa serta meningkatkan pelayanan berbasis teknologi (KKI3)

Geopark Gunung Batur: kolaborasi inovasi kebumian, kepariwisataan, kehutanan, seni-budaya, serta sarana dan prasarana.

Geopark Gunung Batur: litbangyasa kebumian, kepariwisataan, kehutanan, dan seni-budaya.

  1. Mendorong Budaya Inovasi (KKI4)

 

Geopark Gunung Batur: budaya inovasi masyarakat berbasis kebumian dan kepariwisataan.

Geopark Gunung Batur: pengembangan seni-budaya berorientasi global.

  1. Menumbuhkembangkan dan memperkuat keterpaduan pemajuan sistem inovasi dan klaster industri nasional dan daerah (KKI5)

 

Geopark Gunung Batur: pengembangan sistem inovasi kebumian.

Geopark Gunung Batur: pengembangan klaster industri nasional pariwisata.

Geopark Gunung Batur: membutuhkan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi antarpemerintah pusat/daerah, dan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

  1. Penyelarasan dengan perkembangan global (KKI6)

 

Geopark Gunung Batur: sebagai salah satu bentuk pembangunan berbasis pendidikan, litbang, dan industri (teknopolitan).

Geopark Gunung Batur: belum terlihat upaya-upaya mempromosikan Geopark Gunung Batur pada skala global.

Geopark Gunung Batur: Workshop Geopark dan Karnaval Gunung Batur terkesan tidak direncanakan dengan baik (tidak didukung pembuatan banyak spanduk, promosi yang tidak intensif, koordinasi yang kurang baik, belum ada kaos bertuliskan logo geopark dan logo Pemkab Bangli, dan belum tumbuh demam geopark).

 

 

17

 

 

 

 

Last modified on
391880
Hari iniHari ini119
KemarinKemarin128
Minggu iniMinggu ini213
Bulan iniBulan ini2553
Seluruh hariSeluruh hari391880
Statistik created: 2017-11-21T06:13:33+00:00